N’oublie pas de t’aimer♥

  • Home
  • TRIP
  • Social
  • Daily Life
  • My Writings
  • Contact Me

Akhir-akhir ini banyak banget kabar membahagiakan penyempurna separuh iman: Menikah.

Mulai dari tetangga yang menikahkan anaknya, story teman, hingga kabar mengejutkan dari rekan sekantor sendiri :’D

Aku ingin bercerita sedikit tentang temanku ini, yang menurutku kisah cintanya menginspirasi sekali. Dia adalah seorang laki-laki kelahiran 2000, dan menjadi yang termuda di antara kami sesama CPNS. Kita sebut Fulan, ya.

Minggu kemarin menjadi minggu terakhir kami melaksanakan orientasi. Orientasi disini berarti kami melakukan tugas pembantuan di unit-unit yang telah ditentukan sebelum nantinya ditempatkan di unit yang tetap, semacam PKL gitu, tapi pindah-pindah dari satu unit ke unit lainnya (unit di instansiku banyaaak sekali). Paling tidak untuk mengenal sedikit-lebih kegiatan dan tupoksi instansi tempat kami bekerja. Juga mengenal pegawai-pegawainya walaupun tidak semua. Nah ceritanya, salah seorang temanku sesama CPNS (yang juga temannya Fulan) sedang melakukan orientasi di unit tempat Fulan ditempatkan. Dia memberitahuku bahwa salah seorang pegawai disana bilang kalau Fulan hendak mengajukan izin di bulan Syawal untuk menikah. Dyaarr… Rada malu ya sebenarnya karna kami yang temannya saja tidak tahu menahu kabar ini dan justru mengetahuinya dari orang lain. Fulan juga diam seribu bahasa. Setiap jam makan siang pun, Fulan jarang ikut bergabung dengan kami di kantin. Jarang terlihat. Meskipun begitu kami masih terhubung lewat whatsapp.

Temanku mengusulkan untuk diam saja mengenai kabar ini, karna mengerti mungkin Fulan memang belum mau memberitahukannya kepada kami. Tapi… kalian tahu aku, kan :) manusia paling gak sabaran di muka bumi. Kabar baik loh ini, kenapa harus ditutupi?

Aku langsung menodongnya pertanyaan, “Kamu mau menikah?”

Temanku Fulan awalnya mengelak, seolah-olah kabar itu bohong adanya. Sampai akhirnya saat pelaksanaan vaksin kemarin kami ada kesempatan untuk berkumpul lengkap sesama CPNS, barulah disana dia mau buka suara >.<

Mungkin udah banyak ya kisah serupa seperti temanku Fulan, tapi pengen aja gitu aku ceritakan kembali disini hehehe.

Fulan dan calon istrinya (kita sebut Fulanah, ya) saling kenal karena satu organisasi daerah di kampus. Jadi, di kampusku itu ada semacam organisasi dimana isinya orang-orang dari satu daerah yang sama. Biasa disingkat Organda. Temanku Fulan berasal dari Padang, sementara Fulanah berasal dari Solok yang sama-sama Sumatera Barat. Aktif dalam kegiatan organda, membuat mereka berdua sering dipertemukan dalam satu event yang sama. Diam-diam, temanku Fulan mulai menaruh hati pada Fulanah. Tanpa embel-embel modus chatting, atau mengajak bertemu. Ya, bertemu saat event saja. Chatting juga selayaknya teman biasa. Temanku Fulan bercerita, setelah timbulnya perasaan dihatinya ia hanya melakukan istikharah. Meminta kepada Allah, jika memang Fulanah bukanlah jodohnya maka ia meminta untuk Allah angkat perasaannya. Ya Allah… dengernya mau nangis aku :’)

Fulanah lulus terlebih dahulu, meninggalkan Fulan yang masih dihantui bayang-bayang drop out (wkwk kampusku terkenal bgt sama DO-nya). Selama itu Fulan menjalani harinya seperti biasa, dan di akhir masa studinya Fulan membekali diri dengan mengikuti Sekolah Pranikah demi menjemput cintanya. Cailaaaaah…

Momentum lulus dan mulai bekerja, menjadi titik Fulan untuk menunjukkan keseriusannya. Tahun lalu, ia memberanikan diri untuk memberitahu keluarganya akan keinginannya untuk menikah. Sempat tidak direstui katanya, orang tuanya menginginkan Fulan untuk bekerja setahun dua tahun terlebih dahulu sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah. Tapi yang namanya jodoh ya, pasti dipermudah jalannya. Lambat laun orang tuanya pun akhirnya menyetujui. Restu orang tua sudah dikantongi, maka temanku Fulan mengutarakan niat baiknya kepada sang pujaan hati, Fulanah.

Pucuk dicinta ulam pun tiba, Fulanah rupanya merasakan hal yang sama :’) (hadu tisu mana tisu). Jadi mereka sama-sama saling mendoakan, tiga tahun lamanya. Menyambut niat baik Fulan, Fulanah memberikan nomor telepon Ayahnya untuk Fulan hubungi. Semua terjadi cepat sekali, sampai akhirnya berada di titik ini, dimana akad insya Allah akan terjadi bulan Syawal nanti.

Aku… bener-bener turut merasakan kebahagiannya. Ya Allah, bisa ya seperti itu.

Dulu, aku juga sempat percaya jodohku juga akan datang dengan cara serupa. Datang dengan cara yang baik. Tapi makin kesini, makin ditampar sama realita kehidupan, dimana tidak sedikit orang terdekatku yang harus menelan pil pahit pernikahan. Ketakutanku membuatku mulai merubah mindsetku, yah, mending pacaran dulu gak sih? Jadi kayak trial sebelum menikah, daripada besok sudah menikah malah berakhir di meja hijau.

Dan… sebenarnya takut juga sih gak ada yang mau sama aku. Ini memang sisi insecureku yang susah banget diobati. Ngeliat temen-temen di sekelilingku pada punya pacar, gak jarang habis putus tiba-tiba dapet gandengan baru, kayak, hmm… kok bisa cepet banget ya. Kok gak ada yang tertarik sama aku sih? Aku kurang apa? Pertanyaan-pertanyaan kayak gitu selalu muncul di kepalaku.

Selama ini aku ngerasa dekat dengan banyak cowok tuh ya murni sebagai teman saja, gak lebih. Mereka curhat tentang cewe-cewe yang mereka sukai, atau inceran yang ingin didekati, and vice versa. Bedanya, kok ya mereka jadi-jadi saja, sedangkan aku enggak… wkwkwk.

Sampai akhirnya, aku mulai memberanikan diri untuk, “Yaudah lah, terima yang sekiranya tertarik sama aku saja. Toh perasaan akan tumbuh dengan sendirinya…” Dan itulah yang aku lakukan. Aku memutuskan untuk menjalin hubungan dengan seseorang, yang, padahal aku tahu sejak awal sifat dan karakter yang ia miliki sulit untuk aku terima kedepannya. Kasarannya, nekat bunuh diri. Dan, ya… seperti yang diprediksikan semua orang, hubungan kami gak bertahan lama.

Tapi berangkat dari sana, aku menemukan sejuta hikmah dan pandangan baru tentang hidup.

Untuk lebih berhati-hati dalam membangun cinta.

Memutuskan untuk mencintai seseorang berarti siap menanggung risiko untuk patah hati di kemudian hari, pun halnya dengan menikah. Memutuskan untuk menikah berarti siap menanggung risiko jika suatu saat bercerai.

Bagiku yang super konservatif dan kolot, menikah itu layaknya hidup di dunia. Once in a lifetime. Masih aku pegang teguh sampai saat ini. Kalaupun suatu saat menikah, risiko bercerai memang ada, tapi untuk meminimalisir risiko tersebut jadi peer besar buatku untuk memilih seseorang yang sejalan secara visi dan misi hidup. Seseorang yang mampu aku tolerir segala kekurangannya, dan aku hargai segala kelebihannya. Disini, prinsip kehati-hatian dalam membangun cinta harus dijalankan.

Belajar dari pengalaman kemarin juga, hmm… agaknya aku cuti dulu deh dari cinta-cintaan, tapi bukan berarti aku menutup hati. Seseorang pernah bilang ke aku kalo jodoh itu bisa dateng kapan saja. Nah, sambil menunggu si jodoh datang, cuti ini aku manfaatkan sebaik-baiknya untuk memperbaiki diri dari hari ke hari. Entah itu besok, lusa, bulan depan, atau tahun depan sekalipun, aku ingin aku sudah siap. Siap untuk menerima, siap untuk menanggung risiko. Siap untuk mencintai seseorang.

Dan semoga, suatu saat bisa menjalani kehidupan pernikahan yang aku impikan.

Newer Posts Older Posts Home

ABOUT ME

me

Picture2
Kumpulan kisah dan potret; bahagia, sedih, amarah, dan gelisah. Atau malah, kumpulan ide-ide brilian. Menjadikan dunia maya sebagai teman bicara.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Pendakian Pertama: Mt. Merbabu! (reblog tahun 2015)
    Jadi, hari ini aku akan cerita soal pengalaman pertamaku untuk mendaki gunung. Iya, mendaki. Sebagian orang emang nggak yakin orang-ora...
  • Aku dan Tuhan
        Semenjak hari itu, di mana sebaris demi sebaris pesan merangsek masuk memenuhi notif layar handphoneku, aku berusaha melawan perasaanku ...

Categories

  • Daily Life 3
  • My Writings 5
  • Social 2
  • TRIP 2

Advertisement

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.

Followers

Search This Blog

Blog Archive

  • ►  2022 (2)
    • ►  August (1)
    • ►  February (1)
  • ▼  2021 (11)
    • ►  April (1)
    • ▼  March (1)
      • Tentang Menikah
    • ►  February (9)

Pages

  • Home

Popular Posts

  • Aku dan Tuhan
  • Di Bandara
  • #Day1 - Sekolah Pra Nikah
  • Tentang Menikah

Labels

  • My Writings 5
  • Daily Life 3
  • Social 2
  • TRIP 2

Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Template