N’oublie pas de t’aimer♥

  • Home
  • TRIP
  • Social
  • Daily Life
  • My Writings
  • Contact Me

    Semenjak hari itu, di mana sebaris demi sebaris pesan merangsek masuk memenuhi notif layar handphoneku, aku berusaha melawan perasaanku yang masih tertuju pada pria itu, pria yang kukira adalah belahan jiwaku. Pesan-pesan yang kuterima pada tanggal 31 Maret itu sungguh menusuk hatiku hingga aku mempertanyakan rasionalitasku, "Kenapa aku masih menaruh hati pada pria seperti ini, ya?"

    Demi melawan itu semua, dan rasa sedih yang luar biasa, aku memulai sebuah rutinitas baru setelah pulang kantor: membaca buku apa saja yang bisa kubaca, ditemani angin sepoi-sepoi di Lapangan Banteng hingga langit berubah warna menjadi biru dengan sisa-sisa semburat jingga, kemudian melangkahkan kakiku menuju Masjid Istiqlal untuk melaksanakan salat Maghrib. Sebulan, dua bulan berlalu... rutinitas ini mulai melekat, dan aku terus-terusan sampai rumah pukul 8 atau lewat. Meskipun begitu, aku sungguh beruntung memiliki Ibu yang mengerti akan keadaanku, tak pernah bertanya kepada anak gadisnya yang selalu pulang larut. Ataupun tentang tangisku yang sesekali ia dengar di tengah malam.

    Hari ini aku membaca Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer hingga aku lupa waktu karna sayup-sayup terdengar suara adzan berkumandang dari berbagai arah. Aku bergegas melangkahkan kaki secepat mungkin menuju masjid agar sampai untukku melaksanakan salat Maghrib sebagai makmum.

    Mendadak aku teringat saat pertama kali aku melakukan rutinitas ini, dimana hatiku masih berkecamuk penuh amarah, mendatangi rumah Tuhan dan berteriak dalam hati sekencang-kencangnya, "Brengsek! Semuanya brengsek!" yang mungkin jika terdengar oleh jamaah yang hadir aku pasti sudah dilaporkan security untuk diseret keluar. 

    Aku menghambur menuju area salat dengan setengah berlari, rupanya aku datang saat imam salat mengucapkan salam dan mulai melantunkan dzikir. Aku memulai salatku dan berusaha untuk khusyu', karna sungguh, dzikir dan doa-doa yang dilantunkan agak membuyarkan konsentrasiku sama halnya saat aku salat di mushola mall tak kedap suara yang menyerap lagu dari dalam sana. Apalagi kalau kebetulan memutarkan lagu-lagu Payung Teduh atau band-band indie yang sedang naik daun. Hafal betul.

    Aku mengucap salam ketika ustadz dan para jamaah yang hadir menyelesaikan dzikir dan doa-doanya, dilanjutkan dengan membaca Surah Yasin yang menjadi rutinitas setiap Kamis malam. Dua proyektor besar menampilkan huruf-huruf hijaiyah surah tersebut beserta terjemahannya di sisi kanan dan kiri dinding masjid mengikuti irama ustadz yang memimpin bacaan. Beberapa bulan menjalani rutinitas baru ini tak membuatku ingin berlama-lama berada di rumah Tuhanku itu; menyelesaikan kewajibanku untuk salat maghrib dan langsung pulang setelahnya. Namun kali ini tergerak hatiku untuk membaca kalimat-kalimat besar di dinding masjid itu, membaca Surah Yasin, seperti nama kakekku, namun perhatianku tertuju pada makna dibaliknya. Kubaca baris demi baris terjemahannya dengan seksama... hatiku bergetar dalam irama lantunan ayat suci yang menggema ke seluruh sudut masjid. Dan sampailah aku pada dua ayat terakhir yang berbunyi:

82. Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, "Jadilah!" Maka jadilah sesuatu itu.

83. Maka Mahasuci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya kamu dikembalikan.

    Deru suara hujan dan petir yang datang tiba-tiba seolah mengerti, berusaha menutupi suaraku yang menangis terisak agar tak menjadi pusat perhatian. Aku bangkit mundur ke salah satu sudut untuk memberi ruang untukku dan Tuhanku berdialog lebih leluasa. Seperti, kenapa aku menyumpah serapahi rumah-Nya, karna sungguh, Ia Maha Mendengar.

    Kemudian aku menceritakan tentang patah hatiku tanpa jeda... untuk kesekian kalinya. Tuhan, mengapa Engkau menghendaki batinku dihajar babak belur seperti ini, rasanya sakit sekali...

    Aku mendekap lututku erat, sekelebat terasa kehangatan menyelimutiku entah dari mana. Aku diingatkan kembali olehNya, betapa aku melupakanNya ketika aku dimabuk cinta. Lupa bahwa seseorang yang kucinta adalah makhlukNya pula, yang mana ubun-ubunnya berada dalam genggamanNya.

    Tangisku mereda, ketenangan hadir meraba jiwa dan raga... dengan bahasaNya, Tuhanku berkata:

"Berharaplah padaKu, maka kau tak akan kecewa. Cintailah Aku, maka kau tak akan pernah merasakan rasa sakit."




Jakarta, 4 Agustus 2022 

 Assalamualaikum semua!

Udah lama kayaknya aku gak ngepost disini. Sepertinya harus sedia kemoceng karna banyak sarang laba-labanya 😂
Memang, menulis disini selalu menjadi pelarianku ketika sedih, resah, dan tak tenang. Kalau kata anak gaul, jadi coping mechanism, pun menjadi saranaku dalam mengolah emosi.
Di kesempatan kali ini, aku hendak bercerita tentang pengalamanku mengikuti Sekolah Pra Nikah.

Eeeeeeeeeetttt.... tunggu, tunggu. Kok tiba-tiba nikah? Udah ada calon emangnya?

Jawabannya, tentu saja belum (sengaja di-bold binti stabilo merah biar berasa jomblonya). Tapi... entah kenapa hatiku tergerak untuk mengikuti sekolah ini. Walaupun gak tahu kapan jodoh datangnya nanti, setidaknya aku sudah mempersiapkan diri untuk menjadi versi terbaik dari diriku dalam mengarungi bahtera rumah tangga nanti (yaa gak tahu juga, sih, jodoh duluan apa maut duluan yang dateng....)

Sekolah Pra Nikah yang aku ikuti diselenggarakan oleh Masjid Nurul 'Ashri Deresan, Yogyakarta. Alhamdulillah, gak perlu jauh-jauh datang ke Jogja untuk ikut sekolah ini karena diadakan secara virtual, apalagi pandemi juga belum berakhir... (saat ini aku juga lagi positif nih guys, mohon doanya ya!).

Tanpa banyak fafifu wasweswos, dengan mengucap bismillahirrahmanirrahiim, berikut ilmu yang aku rangkum sedemikian rupa dari sekolah hari pertama. Semoga bermanfaat! :D


Menjadi Keluarga Hebat di Keramaian Umat

Oleh Ustadz Oemar Mita
Sabtu, 26 Februari 2022

Menikah = مِيثَاقًا غَلِيظًا

"... perjanjian yang kuat..."; Mitsaqan ghalizon
(QS. An- Nisa : 20-21)
Yang berarti "perjanjian agung"; akad singkat yang menyatukan laki-laki dan perempuan dimana konsekuensi yang ditimbulkan besar, baik di dunia maupun di akhirat. Maka pernikahan sejatinya adalah sesuatu yang sakral, perkara besar, serta tanggung jawab yang panjang. 

Keistimewaan pernikahan
Salah satu syariat di antara syariat yang masih disisakan dalam kehidupan di akhirat kelak. Maksudnya, di akhirat kelak (surga) pun masih ada pernikahan dan menikahkan kaum adam dengan kaum hawa yang tidak mendapatkan jodohnya di dunia (Semua syariat seperti salat dan puasa hilang saat ditegakkannya Hisab).

 ۗوَلَهُمْ فِيْهَآ اَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ

"... Dan disana mereka (memperoleh) pasangan-pasangan yang suci..."
(QS. Al Baqarah : 25)


Seperti yang terjadi pada Asiyah binti Muzahim (istri Fir'aun) dan Maryam binti Imran dimana dijanjikan kelak dinikahkan dengan Rasulullah ﷺ di surga karena keimanannya.

Ini menunjukkan bahwa pernikahan adalah hal yang besar, sampai surga pun tidak mampu menghilangkan syariat pernikahan ketika Allah ﷻ masih memberikan syariat pernikahan kelak di surga.

Tiga kenikmatan surga:
1. Berjumpa dengan Allah ﷻ
2. Berjumpa para Nabi dan Rasul
3. Berjumpa dengan keluarga; sebagaimana QS. At-Tur : 21

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَٰنٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَآ أَلَتْنَٰهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَىْءٍ ۚ كُلُّ ٱمْرِئٍۭ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

"Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya."

Disini menunjukkan bahwa keluarga adalah hal yang besar, dimana di surga pun dikumpulkan kembali untuk mereka yang saling memaknai kehidupan yang hanya ditujukan kepada Allah ﷻ.

Pernikahan adalah hal yang luar biasa, karena dari pernikahan terbentuk keluarga. Keluarga adalah memori terindah dalam kehidupan manusia; dalam riwayat Al-Bara' bin 'Azib mengisahkan saat manusia meninggal dunia dan ruh memasuki Alam Barzah, mereka ditanya dengan pertanyaan-pertanyaan ujian dari Munkar dan Nakir dan apabila mereka berhasil melalui ujian tersebut, maka Allah ﷻ akan berfirman: "Hambaku ini telah benar di dalam keimanannya, bukakanlah antara ia dengan surga," maka ia akan melihat surga sejauh mata memandang. Akan datang seseorang dengan wujud rupawan yang akan menemani dia menunggu hari kiamat. Wujud tersebut adalah amal salih yang ia perbuat selama di dunia. Setelah mendapatkan semua kenikmatan ini (surga), mereka (orang-orang salih) akan berteriak, yang teriakannya tidak akan didengar oleh jin dan manusia, 
"Ya Rabb-ku, tolong segerakan Hari Kiamat agar aku lekas berjumpa kembali dengan keluargaku,"

 Bermakna, guncangan kematian dan fitnah di alam kubur tidak akan menghapuskan memori manusia tentang keluarganya. 

Itu menunjukkan kepada kita bahwasanya urusan pernikahan adalah urusan yang besar dan diatur sedemikian rupa untuk membedakan peradaban hawa nafsu dan peradaban keimanan.

Peradaban hawa nafsu → Tidak memerlukan pernikahan, hanya butuh kepuasan (contoh: pacaran...); yang tidak menghasilkan apa-apa selain mudharat. Menempatkan kepuasan sebagai komandan tertinggi, walaupun harga dari kepuasan tersebut banyak berakhir menjadi kisah sedih bagi korban.

Peradaban keimanan → Meletakkan syariat dengan sangat detail; karena tahu betul kualitas manusia itu tergantung kepada keluarganya.
وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا

"Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Furqan : 74)


Qurrota A'yun = menyenangkan + menenangkan
→ menyenangkan; taat, patuh, tersenyum
→ menenangkan; tahu apa yang perlu dilakukan dan dibutuhkan dalam beribadah, akhirat menjadi lebih ringan bersamanya :)

Ironi → bagaimana di zaman sekarang banyak orang menikah tanpa ilmu :(


Jadi Ustadz, apa yang kita butuhkan sebelum menikah?
→ Dalam menikah tidak ada senioritas dan junioritas; tetap membutuhkan nasihat, ilmu, dan referensi untuk membasahi yang kering dan menghidupkan kembali yang mati dalam rumpun-rumpun komitmen pernikahan.

Ilmunya apa, Ustadz?
Beberapa ilmu yang harus kita sadari; pertama, pastikan bahwasanya pernikahan yang kita lakukan diniatkan terjadi semata-mata karena Allah ﷻ. Ketika kita sudah betul-betul paham bahwasanya pernikahan ini harus kita letakkan karena Allah ﷻ bukan karena cinta dan kasih sayang, siapapun yang telah menjaga Allah ﷻ dalam setiap part penting kehidupannya maka Allah ﷻ akan menjaga proses sisanya. Kenapa? Karena cinta bisa hilang seiring dengan kekecewaan yang kita peroleh... (jujur part ini sangat-sangat menohok buatku pribadi 😭), pula jangan didasarkan pada kasih sayang, karena kasih sayang itu bisa menipis karena kesalahan yang dilakukan berulang-ulang oleh pasangan kita. Namun apabila orang itu benar-benar menikah diniatkan karena Allah ﷻ; ketika cintanya lagi kecewa, maka Allah ﷻ yang akan mengembalikan rasa kecewanya pada cinta yang dia miliki, kalau rasa kasih sayangnya menipis maka Allah ﷻ yang akan menebalkannya pula.

Maka dari itu penjagaan proses, dasar memilih, hingga apapun komitmen setelah dipertemukan oleh Allah ﷻ selalu menempatkan Allah ﷻ dalam prioritas dalam apa yang dilakukan dan dikerjakan.

Karena ketika semua diniatkan karena Allah ﷻ , maka yang bisa menjadi penawar kekecewaan hati itu adalah ketika kita mengingat Allah ﷻ, bahwasanya pernikahan ini adalah karena Allah ﷻ, bukan karena yang kita harapkan pasangan kita sesuai dengan ekspektasi kita... (dheg). 

Kalau seorang suami berniat menikah karena Allah ﷻ lalu mendapatkan kekurangan, maka ia akan berharap yang membalas kebaikannya walaupun ia tidak mendapatkan kebaikan dari istrinya maka dia tahu yang membalasnya adalah Allah ﷻ... 😭😭😭😭😭😭 pun sebaliknya...

Pastikan jodoh itu baik dan tepat.

Tepat → Baik untuk saya, baik untuk agama saya (siap membimbing dan diap dibimbing), baik untuk keluarga saya, baik untuk kehidupan saya di masa mendatang, dan baik untuk kehidupan akhirat saya.

Ikhtisab
Penawar dari segala kecewa, mengharap pahala semata disisi Allah ﷻ
→ Konsep menggantungkan hati untuk mengharap balasan dari Allah ﷻ semata
"Pernikahan itu tidak menjanjikan kepuasan, melainkan menjanjikan keberkahan bagi orang yang bersabar,"

Harus siap dengan berbagai macam hal yang terjadi; diuji dengan kesempitan (hal-hal yang tidak terduga) pula dengan kelapangan...

Apa yang memotivasi kita untuk sabar?  Karena Allah ﷻ semata...

Perempuan → panjang perasaannya, pendek logikanya

Laki-laki → pendek perasaannya, panjang logikanya

Kalau di dalam pernikahan ini bukan Allah ﷻ yang menjadi harapan, perempuan akan merasa tersakiti karena perasaannya tidak terpuaskan sementara laki-laki merasa terpenjara karena logikanya tidak banyak diterima oleh perempuan ketika perempuan lebih didominasi oleh perasaan... Maka dari itu yang bisa memperjumpakan mereka di satu titik kembali lagi ke Allah ﷻ...

"Tidak akan ada yang membahayakan seseorang itu selama mereka memiliki kesabaran yang lebih besar daripada masalah yang mereka jumpai..."

 (untuk aku yang masih tergoda obralan kata cinta cwk, jujur materi ini dahsyat banget 😭)

Kalau sudah dilakukan karena Allah ﷻ, kita tidak akan mencari pembenaran atas apa yang terjadi dan pasangan kita tidak akan mencari dalih atas kesalahan yang dia lakukan... Semua diserahkan kepada Allah ﷻ... Dan itulah arti keberkahan apabila kita sudah bisa menerima pasangan kita dengan kekurangannya, walaupun tanpa menafikkan ikhtiarnya untuk berubah, kita menerima kekurangannya... Karena kita tahu kita tidak mengharapkan balasan dari sisi manusia... Balasan terbaik hanya dari Allah ﷻ....

"Konsep bahagia itu sederhana: rendahkanlah harapanmu, perbesarlah permaklumanmu,"


Newer Posts Older Posts Home

ABOUT ME

me

Picture2
Kumpulan kisah dan potret; bahagia, sedih, amarah, dan gelisah. Atau malah, kumpulan ide-ide brilian. Menjadikan dunia maya sebagai teman bicara.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Pendakian Pertama: Mt. Merbabu! (reblog tahun 2015)
    Jadi, hari ini aku akan cerita soal pengalaman pertamaku untuk mendaki gunung. Iya, mendaki. Sebagian orang emang nggak yakin orang-ora...
  • Aku dan Tuhan
        Semenjak hari itu, di mana sebaris demi sebaris pesan merangsek masuk memenuhi notif layar handphoneku, aku berusaha melawan perasaanku ...

Categories

  • Daily Life 3
  • My Writings 5
  • Social 2
  • TRIP 2

Advertisement

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.

Followers

Search This Blog

Blog Archive

  • ▼  2022 (2)
    • ▼  August (1)
      • Aku dan Tuhan
    • ►  February (1)
      • #Day1 - Sekolah Pra Nikah
  • ►  2021 (11)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  February (9)

Pages

  • Home

Popular Posts

  • Aku dan Tuhan
  • Di Bandara
  • #Day1 - Sekolah Pra Nikah
  • Tentang Menikah

Labels

  • My Writings 5
  • Daily Life 3
  • Social 2
  • TRIP 2

Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Template