Semenjak hari itu, di mana sebaris demi sebaris pesan merangsek masuk memenuhi notif layar handphoneku, aku berusaha melawan perasaanku yang masih tertuju pada pria itu, pria yang kukira adalah belahan jiwaku. Pesan-pesan yang kuterima pada tanggal 31 Maret itu sungguh menusuk hatiku hingga aku mempertanyakan rasionalitasku, "Kenapa aku masih menaruh hati pada pria seperti ini, ya?"
Demi melawan itu semua, dan rasa sedih yang luar biasa, aku memulai sebuah rutinitas baru setelah pulang kantor: membaca buku apa saja yang bisa kubaca, ditemani angin sepoi-sepoi di Lapangan Banteng hingga langit berubah warna menjadi biru dengan sisa-sisa semburat jingga, kemudian melangkahkan kakiku menuju Masjid Istiqlal untuk melaksanakan salat Maghrib. Sebulan, dua bulan berlalu... rutinitas ini mulai melekat, dan aku terus-terusan sampai rumah pukul 8 atau lewat. Meskipun begitu, aku sungguh beruntung memiliki Ibu yang mengerti akan keadaanku, tak pernah bertanya kepada anak gadisnya yang selalu pulang larut. Ataupun tentang tangisku yang sesekali ia dengar di tengah malam.
Hari ini aku membaca Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer hingga aku lupa waktu karna sayup-sayup terdengar suara adzan berkumandang dari berbagai arah. Aku bergegas melangkahkan kaki secepat mungkin menuju masjid agar sampai untukku melaksanakan salat Maghrib sebagai makmum.
Mendadak aku teringat saat pertama kali aku melakukan rutinitas ini, dimana hatiku masih berkecamuk penuh amarah, mendatangi rumah Tuhan dan berteriak dalam hati sekencang-kencangnya, "Brengsek! Semuanya brengsek!" yang mungkin jika terdengar oleh jamaah yang hadir aku pasti sudah dilaporkan security untuk diseret keluar.
Aku menghambur menuju area salat dengan setengah berlari, rupanya aku datang saat imam salat mengucapkan salam dan mulai melantunkan dzikir. Aku memulai salatku dan berusaha untuk khusyu', karna sungguh, dzikir dan doa-doa yang dilantunkan agak membuyarkan konsentrasiku sama halnya saat aku salat di mushola mall tak kedap suara yang menyerap lagu dari dalam sana. Apalagi kalau kebetulan memutarkan lagu-lagu Payung Teduh atau band-band indie yang sedang naik daun. Hafal betul.
Aku mengucap salam ketika ustadz dan para jamaah yang hadir menyelesaikan dzikir dan doa-doanya, dilanjutkan dengan membaca Surah Yasin yang menjadi rutinitas setiap Kamis malam. Dua proyektor besar menampilkan huruf-huruf hijaiyah surah tersebut beserta terjemahannya di sisi kanan dan kiri dinding masjid mengikuti irama ustadz yang memimpin bacaan. Beberapa bulan menjalani rutinitas baru ini tak membuatku ingin berlama-lama berada di rumah Tuhanku itu; menyelesaikan kewajibanku untuk salat maghrib dan langsung pulang setelahnya. Namun kali ini tergerak hatiku untuk membaca kalimat-kalimat besar di dinding masjid itu, membaca Surah Yasin, seperti nama kakekku, namun perhatianku tertuju pada makna dibaliknya. Kubaca baris demi baris terjemahannya dengan seksama... hatiku bergetar dalam irama lantunan ayat suci yang menggema ke seluruh sudut masjid. Dan sampailah aku pada dua ayat terakhir yang berbunyi:



