N’oublie pas de t’aimer♥

  • Home
  • TRIP
  • Social
  • Daily Life
  • My Writings
  • Contact Me

 Kulihat ia dari kejauhan, matanya seperti mencari-cari seseorang. Kuteriakkan namanya di antara riuh-rendah pengunjung yang berlalu-lalang, "Kinasih!". Ia refleks tersentak kaget seolah seluruh pengunjung yang datang menoleh padanya. Dengan langkah kakinya yang kecil ia sedikit berlari untuk menghampiriku yang sedari tadi sudah menunggu. 

Kami duduk di sebuah bangku panjang, tak jauh dari antrean check-in penumpang pesawat. Dua gelas kopi bertengger di masing-masing tangan kanan dan kiriku, iced americano untukku dan frappucino caramel kesukaannya─aku memang selalu tahu hal-hal kecil yang ia sukai.

"Macet banget, maaf ya." Kinasih membuka percakapan. Tak mengapa kataku, toh aku memintanya menemuiku disini secara mendadak. Tiga tahun tidak bertemu, ia tetap terlihat sama. Kinasih yang mengendarai vespa butut peninggalan kakeknya─tercium dari aroma khas terik matahari yang menyelimuti tubuhnya. Ia selalu menyisir ulang rambutnya dengan jari-jemarinya karena rambutnya kusut, sebagian terbungkus helm dan sebagiannya lagi diterpa angin tak beraturan setelah menempuh jarak yang sama sekali tidak dekat, dari rumahnya ke bandara, hanya untuk menemuiku seorang. Terbesit rasa senang dihatiku mengetahui fakta ini, tapi apakah rasanya terhadapku masih sama setelah tiga tahun lamanya?

Ia meneguk kopi yang aku berikan, bercerita banyak tentang keseharian yang ia lakukan selama kami tak bertegur sapa. Travelling keliling dunia selalu menjadi cita-citanya, yang rupanya mulai terlaksana jua. Setengah dari benua Asia telah ia kunjungi, benua Eropa menjadi target selanjutnya. Momen seperti ini yang selalu aku rindukan darinya, binar matanya saat membicarakan hal yang ia sukai. Binar mata yang sama saat ia memperkenalkanku ke orang tuanya, tiga tahun silam.

Mengajaknya bertemu bukan tanpa tujuan, aku bahkan sudah menyiapkan kata-kata yang hendak aku utarakan; untuk membawanya kembali ke pelukanku, meminangnya, menua bersama.

"Kinasih, ada sesuatu yang ingin aku katakan..."

Ia terdiam, bersiap untuk mendengarkanku dengan seksama.

"Selama tiga tahun ini, aku masih memikirkanmu, Sih. Selalu memikirkanmu..."

PING!!!!

Notifikasi chat yang muncul pada layar smartphone-nya membuyarkan suasana serius yang telah tercipta. Seseorang hendak meneleponnya, katanya. Ia meminta izin padaku untuk menjauh sebentar, meninggalkanku dan kata-kata yang menggantung di ujung lidah.

Ia memunggungiku seraya berbincang dengan kotak seukuran 6 inchi yang menempel di telinga kanannya, tak bisa kuterka ekspresi dan hal apa yang sedang dibicarakan. Hatiku yang mulanya tenang menjadi gelisah.

Selesai dengan teleponnya, ia menghampiriku kembali yang masih duduk di tempat yang sama.

"Boleh aku lanjutkan yang tadi?" tanyaku berhati-hati.

Ia hanya mengangguk.

"Kinasih, selama tiga tahun ini... aku masih memikirkanmu, selalu memikirkanmu. Tidak ada wanita lain setelahmu. Aku menghabiskan tiga tahunku untuk merenungi...."

Nada dering lagu Starlight oleh Muse─grupband favoritnya─dari smartphone-nya berbunyi nyaring mengagetkan kami berdua. Tanda telepon masuk. Ia kembali meminta izin padaku untuk menjauh sebentar, mengangkat telepon. Meninggalkan hatiku yang kian gusar.

Berbeda dari telepon yang pertama, kini ia tak lagi memunggungiku. Ia menelepon sambil mencari-cari, dengan gelagat yang sama saat ia mencariku─sebelum aku meneriakkan namanya. Rupanya, ada seseorang yang ia tunggu kehadirannya. Kedatangannya ke bandara bukan hanya untuk menemuiku seorang.

"Hendra!" teriaknya di antara riuh-rendah pengunjung yang berlalu-lalang. Seorang lelaki bertubuh tinggi besar yang menggendong tas keril hitam di punggung, tersenyum ke arah orang yang meneriakkan namanya tadi─tersenyum ke arah Kinasih. Lelaki yang bernama Hendra itu membentangkan tangannya, disambar pelukan hangat Kinasih yang berlari kecil mengahampirinya. Mereka berbincang sebentar, kemudian Kinasih menunjuk ke arah tempatku duduk. Jarak mereka berdiri dari tempatku duduk hanya beberapa meter, tak butuh waktu lama untuk mendekatiku yang terdiam membisu. 

"Ardi, kenalkan. Ini Hendra,"

Hendra.

Namanya terus menggelayut dipikiranku. Nama yang membuat binar mata itu kian jelas, binar mata yang aku kenal─binar mata itu!

Terlambat. Terlambat sudah.

Binar mata yang aku harap takkan lagi menyala untukku.

Ngerasa gagal terus dalam hubungan, bikin aku mulai mempunyai stigma 'apa ada yang salah ya, sama aku?'

Dan baru-baru ini, aku mengalami post-breakup relationship yang cukup parah; membuatku mencari-cari cara untuk menyembuhkan diri. Sudah curhat ke teman-teman, tetap merasa kurang puas karena pasti mereka memihakku, dan melampiaskannya ke sosial media justru memperparah keadaan. Yang namanya manusia, ya, pengennya dengar apa yang ingin mereka dengar. Jadi, aku memutuskan untuk mendatangi psikolog yang jelas ahlinya, sudut pandang netral, dan stranger; alias sebebas-bebasnya aku cerita, kan, gak bikin imej siapapun jelek nantinya. Oh ya, ini juga jadi pengalaman pertamaku mendatangi psikolog.

Aku gak tahu ya, kenapa stigma di masyarakat tentang mendatangi psikolog cenderung negatif. Padahal menurutku ya biasa-biasa saja. Kayak curhat sama temen yang lebih ahli aja gitu. Semua orang kan pasti pernah berada di titik terendah self-esteem mereka, kayak yang aku alami pasca putus ini. Aku merasa butuh seseorang untuk membangkitkan self-esteemku kembali, yang tidak aku temukan dengan curhat ke teman-teman maupun sambat di sosial media. Mendatangi psikolog juga bukan berarti gak deket sama Tuhan, yaa~

Berbekal koneksi internet dan smartphone yang memadai, tak lupa budget yang minim mampus, aku menelusuri laman google dengan seksama, mencari-cari poli psikologi yang sekiranya nyaman di kantong diriku yang masih CPNS ini (belum digaji Bund hiks). 

Dan ternyata yang aku temukan adalah...

Poli psikologi sudah hadir di hampir seluruh puskesmas kecamatan yang ada di Jakarta!

Dari banyaknya informasi yang aku peroleh, semua puskesmas serempak mengatakan bahwa sesi konseling dialihkan menjadi daring. Aku berburu mengontak puskesmas-puskesmas yang sekiranya dekat dengan kantorku, rumahku, atau kost sahabatku. Beberapa puskesmas yang aku kontak antara lain: Puskesmas Kecamatan Kramat Jati, Puskesmas Kecamatan Senen, dan Puskesmas Kecamatan Matraman. For your information aja nih, kalau kalian punya BPJS boleh langsung daftar, nantinya akan langsung dijadwalkan sesi konseling. Semuanya gratis tis tis tissss. Sementara kalau mandiri (tanpa BPJS), tarifnya berkisar 30 s.d. 45 ribu aja.

Nah di postingan kali ini, aku mau ngebahas pengalaman self-healingku dipandu Poli Psikologi Klinis Puskesmas Kecamatan Matraman aja yaa~ (karena sesi konseling bersama dua puskesmas lainnya bersifat privasi hehehe)


Saat aku mengontak PIC Puskesmas Kecamatan Matraman untuk mendaftar, mereka menyatakan tidak menyediakan layanan konseling tatap muka dan mengirimiku poster di atas. Aku memberanikan diri untuk mengikuti salah satu sesinya.

Sesi konseling diawali dengan lagu-lagu dari Nadin Amizah sebagai pengantar~ Tsaaaaah syahdu bener ya

Aku kira ini bakal jadi sesi one-by-one gitu, tapi ternyataaa pesertanya gak cuma aku. Ada sekitar 8-10 orang termasuk Mas Ari (psikolognya). Jadi semacam klub kecil untuk menyembuhkan diri bersama-sama.

Mas Ari membuka konseling dengan obrolan-obrolan ringan tentang relasi, serta kaitannya dengan teori need, drive, motive. Bagaimana toxic relationship bisa terjadi, kebutuhan batin, juga muhasabah diri. Dari sekian banyak obrolan, satu hal yang bener-bener nancep di otakku sampai sekarang, waktu Mas Ari bilang:
Relasi itu tentang bulding connection, bukan saling memenuhi ekspektasi.

Mak deg mak tratap ya, Bund.

Kata-kata itu yang bener-bener jadi turning pointku, sih. Mungkin ya, selama ini relasi yang aku bangun dengan orang-orang itu didasari atas ekspektasi. Misal nih, aku punya sahabat sebut saja A. Kalau A sakit, aku ngerawat dia sedemikian rupa dengan harapan A bakal melakukan hal yang sama ke aku. Begitu ekspektasiku gak terpenuhi, jadi marah sendiri~

Sama halnya dengan hubungan ya, apalagi pacaran, komitmen, whatever you call it lah. Sebenarnya, sah-sah aja kalau kita punya ekspektasi ke pasangan. Asal, kalau gak sesuai sama ekspektasi kita, yasudah. Jangan malah marah-marah :(

Kelas self-healing dilanjutkan dengan meditasi. Kami para peserta diarahkan untuk memegang jari kelingking, merasakan pulse aliran darah yang mengalir. Sambil memejamkan mata, berimajinasi membayangkan benda sesuai pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Mas Ari. Tapi sayangnya, di part meditasi ini, I'm not at my best state for completely awake dan aku malah kebablasan bobok :( aku kebangun waktu sesi meditasinya selesai dan membahas apa yang tadi diimajinasikan.

Aku be like:


Ada salah satu peserta sharing tentang apa yang dia bayangkan. Ia membayangkan awan saat Mas Ari bertanya, "Apa yang kamu butuhkan?". Peserta itu bilang, mungkin ia membutuhkan kelembutan maka dia membayangkan awan. Ada juga yang membayangkan berlian, yang ia interpretasikan sebagai sesuatu yang berharga. Ia butuh dianggap berharga oleh seseorang, lebih-lebih dianggap berharga oleh orang yang disayang.

Sesi ditutup dengan sepatah-dua patah kata dari Mas Ari, yang bilang kalau belum bisa membayangkan pun gak apa-apa (termasuk untuk aku yang malah kebablasan bobok). Bukan menjadi acuan harus membayangkan ini dan itu. Lalu diakhiri dengan salam sebelum akhirnya menutup ruang zoom.

Kesan mengikuti kelas ini?

Hmm... entahlah. I feel way more... relieved?

Ikut kelas seperti ini juga jadi sarana buat aku mengenal diri sendiri, gak seenak jidat ngejudge dan sukanya nyalahin diri sendiri atas apa yang gak bisa aku kontrol. Ini peer besarku banget, sih. To be emotionally stable. 

Jadi, yah, segitu dulu ya pengalamanku ikut kelas self-healing. Besok-besok kalo ikut lagi insya Allah aku share lagi!!! :D
Firasat datang disaat akad tinggal menghitung hari.

Ia mengajakku untuk menemui seseorang. Tak jelas siapa dan atas keperluan apa, ia tidak memberitahuku. Kami bertemu di sebuah restoran yang terkenal akan lantai kaca yang di bawahnya terdapat kolam ikan, layaknya lantai kerajaan Nabi Sulaiman saat Ratu Bilqis datang untuk bertamu. Seseorang itu sudah sampai katanya, membuat kami bergegas untuk berangkat agar tidak membiarkannya menunggu terlalu lama. Seperti biasa, ia selalu memakaikan aku helm sebagai sentuhan perhatiannya. Motor astrea tua melaju lebih cepat dari biasanya.

Sesosok wanita berhijab hitam menarik perhatianku sejak awal kami memasuki restoran. Tubuhnya yang mungil membuatnya terlihat tenggelam di dalam pakaiannya yang panjang dan kebesaran. Ia menggenggam sebuah kitab kecil─ Al Qur'an berukuran mini. Mulutnya bergerak berirama, namun tak terdengar suara dari tempat kami berdiri.

Ia menarik tanganku untuk menghampiri wanita behijab itu, yang duduk di meja nomor 24. Rupanya, wanita inilah yang ia maksud─seseorang yang hendak kami temui. Kuperhatikan raut mukanya berubah sumringah saat wanita itu berdiri untuk menyambut kami. Aku tahu kearah mana pertemuan ini akan berujung, tapi hatiku berusaha sekuat tenaga untuk menyangkal segala firasat yang datang.

Wanita itu memperkenalkan dirinya sebagai Aisyah. Tak pelik, apa yang dicita-citakan orang tuanya tercermin dari paras serta kelemah-lembutannya. Aisyah menjaga sentuhan dari lawan jenis agar wudu'nya tetap terpelihara, maka ia hanya menyalamiku saja.

Pembicaraan kami berlangsung lama dengan masa lalu sebagai topik utama. Bagaimana mereka menghabiskan masa SMA bersama, perjalanan hijrah Aisyah, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk tidak saling berbagi kabar. Ini adalah pertemuan pertama mereka setelah sekian lama. Di beberapa kesempatan, Aisyah menceritakan tentang anak kembarnya bernama Hasan dan Husein yang baru menginjak umur satu tahun. Ia memperlihatkan kepada kami foto dan video tingkah lucu anak-anaknya yang tersimpan di smartphone usang miliknya. 

Aku hanya terduduk diam di sebelah lelakiku. Tak mengerti secuil pun bahasan yang menjadi topik obrolan. Melaksanakan tugasku menjadi pendengar dan pengamat.

Tak terasa adzan maghrib pun berkumandang, membuat kami menyudahi pertemuan yang telah berlangsung dua setengah jam lamanya. Aisyah pamit mencari masjid terdekat, untuk segera melaksanakan salat. Aku dan lelakiku masih berdiri di tempat yang sama, melepas kepergian Aisyah hingga bayangnya tak terlihat.

Di tangan lelakiku terdapat sepucuk surat berwarna putih, lengkap dengan hiasan renda hijau tua di pinggirannya. Di tengahnya terpatri inisial "D&A"─Daffa dan Asih, nama kami. Bukan Daffa dan Aisyah seperti apa yang diharapkan lelakiku. 

Digenggamnya surat itu sedari tadi, tak tersampaikan hingga si penerima surat melangkah pergi.

Aku tahu,
Lebih dari sekadar tahu...

Akad esok hari takkan terjadi.



Apakah kamu percaya pada takdir? Kalau aku, sih, tidak. 

Aku mulai mempercayainya setelah bertemu denganmu.

Kita putar ke belakang, yuk.


Tuhan menciptakan aku dan kamu di zaman yang sama. Padahal bagi-Nya bisa-bisa saja aku dilahirkan di zaman Fir'aun berkuasa. Atau bisa saja Ia menciptakanmu untuk menaiki bahtera, menjadi pengikut Nabi Nuh. Atau bisa saja menciptakan kita di zaman yang sama namun berbeda belahan dunia, aku memihak Sekutu sementara kamu memihak Poros.
Tapi nyatanya, tidak Ia lakukan.

Atas pilihan-pilihan hidup yang kita buat dan campur tangan Tuhan di dalamnya; kalau saja Tuhan mengarahkan hatimu untuk mantap melanjutkan studi di tempat lain. Atau, kalau saja Ia mengarahkan hatiku untuk memilih tidak kuliah saja, lebih baik langsung bekerja. Maka, tidak ada perkenalan di antara kita.
Tapi nyatanya, tidak Ia lakukan.

Atas pilihan-pilihan hati yang melibatkan cinta dan Tuhan di dalamnya; kalau saja Tuhan membolak hatiku untuk mencintai diriku sendiri sedemikian rupa, hingga akhirnya memilih untuk tidak mencintai siapapun sampai akhir hayat nanti. Atau, kalau saja Tuhan membalik hatimu untuk hanya mencintai satu wanita dalam hidup, kamu tidak akan mencintai temanku. Maka, tidak ada pertemuan di antara kita.
Tapi nyatanya, tidak Ia lakukan. 

Tuhan pada akhirnya menciptakan, mencampuri, dan memantapkan hati atas pilihan-pilihan hidup yang kita buat, di waktu dan alur yang tepat: agar terjadi sebuah pertemuan.

Aku dan kamu.

Dan untuk itu, aku bersyukur.



Jakarta, 25 Desember 2020

 "Melbourne karya Winna Efendi adalah novel keempat yang selesai kubaca untuk bulan ini," ujarnya bangga seraya tersenyum manis. Matanya terus menatap ke arahku seolah bertanya apakah aku penasaran dengan isi novelnya. Yang, tentu saja tidak. Ia tahu benar.

Tapi kata yang keluar dari mulutku justru, "Novelnya tentang apa?"

Karna aku tahu benar: ia hanya perlu didengar.

Ia pun membenarkan posisi duduknya, menyedot gula di dasar gelas es teh manis yang belum diaduk. Bakaran sate-satean belum juga diantarkan oleh Mbah Kis, si empunya angkringan yang berada di depan Alfamidi, tak jauh dari kampus dan kawasan kost kami. Suasana angkringan yang remang-remang membuat wajahnya yang cerah berseri seolah terkena lampu sorot yang entah datang darimana. Ia siap menceritakan apa yang dia baca.

"Kisah tentang dua manusia yang saling jatuh cinta untuk yang kedua kalinya. Bagus. Aku suka tokoh yang bernama Laura disini. Mirip banget sama aku,"

Hening panjang.

Matanya mulai menyelidik, berusaha memaksaku untuk menanggapinya dengan kalimat tanya.

"Mirip dari segi mananya?" tanyaku singkat.

"Pemikiran-pemikiran takutnya akan masa depan, akan perasaan terluka. Ohya! Dia juga punya perspektif begini: ada lagu yang tepat untuk setiap kejadian. Aku juga memiliki perspektif seperti itu... bedanya, bagiku, ada lagu yang tepat untuk mengingatkanku pada seseorang."

Mbah Kis mengantarkan sate-satean pesanan kami yang memaksa ia untuk jeda sejenak dari celotehannya.

"Matur nuwun, Mbah."

"Ojo seru-seru yo, Nok, critone. Ra penak nek tetonggo do krungu."

"Ohya. Ngapunten nggih, Mbah."

Ia menyedot lagi gula yang berada di dasar gelas es tehnya. Bersiap untuk kembali bercerita. Alih-alih membenarkan posisi duduk, kali ini yang ia lakukan adalah meraba-raba tenggorokannya sebelum mulai berbicara.

"Jadi..." suaranya berubah menjadi pelan sekali, hampir tidak terdengar.

"Gedein dikit. Gak kedengeran,"

"Oh oke. Jadi..." volumenya naik tingkat, menjadi setengah berbisik.

"Seperti yang aku bilang tadi, bagiku ada lagu yang tepat untuk mengingatkanku pada seseorang. Lagu Man Upon The Hill misalnya, mengingatkanku pada Pras yang mendadak berhenti mengabariku, tahu-tahu datang ke konser kampus dengan wanita lain. It was just a fling between us, tapi melihatnya bersama wanita lain membuat dadaku sesak. Lirik lagu itu bilang, 'I stopped right there, you found a new home. And I should be happy', yang membuatku sadar untuk berhenti memikirkannya, dan seharusnya aku berbahagia untuknya.

"Atau lagu Rahasia Hati-nya Nidji. Mengingatkanku pada Afkar, cintaku yang tak berbalas. Cinta yang tak pernah aku ungkapkan, atau lebih tepatnya, aku tak punya nyali untuk mengungkapkannya. Lirik lagunya berbunyi,

Andai matamu melihat aku
Terungkap semua isi hatiku
Alam sadarku alam mimpiku
Semua milikmu andai kau tahu
Andai kau tahu
Rahasia Cintaku."

Ia menyanyikannya pelan dengan nada sumbang. Dua tahun mengenalnya adalah waktu yang cukup bagi telingaku untuk terbiasa.

"Kamu penasaran gak, lagu apa yang mengingatkanku sama kamu?"

Aku yang sedang asik mengunyah sate telur puyuh seketika tersedak dengan pertanyaannya yang diluar dugaan. Aku menyeruput kopi hitamku untuk menenangkan kerongkonganku.

Hening panjang kembali berada di antara kami.

Ia melanjutkan, "The Scientist, Coldplay."

"Kenapa begitu?"

"Nobody said it was easy
It's such a shame for us to part
Nobody said it was easy
No one ever said it would be this hard
Oh, take me back to the start."

Ia menyenandungkan lagu tersebut, dengan suara serak tertahan. Menahan air mata yang sejak tadi berkumpul di sudut matanya, ingin jatuh.

"Aku merasa... aku selalu menganalisis apa-apa saja yang terjadi di antara kita, mencari-cari akar permasalahan layaknya ilmuwan. Padahal, masalah-masalah tersebut hanya skenario dari hasil imajinasi dan ketakutanku akan terluka, tidak pernah benar-benar ada... Sampai akhirnya kita harus berpisah. Kenangan indah seolah terlupakan dengan begitu banyak argumen dan perdebatan yang itu-itu saja. It's like we're running in circles."

Ia berhenti sejenak, mengatur napas. Aku tahu, butuh keberanian yang tidak sedikit baginya untuk mengatakan ini semua.

"Aku ingin mencintaimu dengan penuh keberanian kali ini. So here, I proposed to you. Let's go back to the start, shall we?"

Di tengah remang lampu yang menyinari angkringan pinggir jalan, aku tersenyum menatap matanya yang penuh harap menunggu jawaban.

"Selamat datang untuk kembali pulang."

Menjalani karantina di rumah selama sembilan bulan terakhir di tahun 2020, membuatku merenungi banyak hal, termasuk hal-hal apa saja yang bisa aku lakukan sebelum pandemi terjadi. Yang, sungguh, sebenarnya aku bisa kok melakukan ini dan itu, hanya kemauan dalam diri saja yang belum tercipta. Ditambah jenuhnya berada di rumah karena karantina─yang aku atasi dengan eksperimen-eksperimen memasak, belajar skincare, nonton drakor, khatamin Netflix, juga workout Chloe Ting (hampir meninggal Bund, napas pake pori-pori rasanya)─aku ngerasa... masih kurang. Kurang nyata, kurang menantang. Aku bisa lebih dari ini. Dan waktuku di tahun 2020 kemarin terbuang begitu saja... (eh, yah, sempat yudisium dan wisuda online sih).

Di awal tahun 2021 ini, aku juga sudah mulai bekerja di salah satu instansi milik pemerintah, selaras dengan pengumuman penempatan yang diumumkan kampusku akhir tahun lalu. Kerjanya masih separuh WFH (Work From Home) dan separuhnya lagi WFO (Work From Office), yang tidak sesuai ekspektasiku karena di masa orientasi ini kupikir aku akan jadi manusia super sibuk😅 yang kenyataannya, gak sibuk-sibuk amat. Masih banyak waktu luang yang aku punya, dan kali ini mau aku manfaatkan sebaik-baiknya. Menyusul kabar baik hadirnya vaksin di negara tercinta kita ini, aku juga mulai memberanikan diri untuk keluar rumah. Dengan catatan, sesampainya di rumah tetap menjalani protokol kesehatan.

Sembari apply volunteer kesana kemari via website organisasi sosial, iseng-iseng aku main ke website https://www.indorelawan.org/. Dikarenakan kondisi yang masih pandemi, rata-rata kegiatan yang ditawarkan berupa aktivitas virtual... yah, sedikit kecewa karena aku mencari kegiatan yang tatap muka langsung. 

Gak ada angin, gak ada hujan...

Entah mendapat ilham dari mana, aku teringat beberapa kali pernah melewati daerah Ciputat saat perjalanan pulang ke Bekasi (rumahku) dari arah Bintaro (kampusku). Ada satu tempat yang menarik perhatianku, di bawah kolong flyover daerah sana ada tempat yang bagus, yang awalnya aku kira itu taman bermain instagrammable biasa. Jiwa-jiwa kepo mulai on nih, mulai deh googling-googling. Kuketik "Taman Kolong Ciputat" di kolom google search, dan di detik selanjutnya, hal yang kutemukan membuatku lebih excited lagi: Taman Bacaan Masyarakat Kolong.

Dengan kemampuan dan insting stalking seorang wanita yang aku miliki, dengan mudah aku mendapatkan contact person Kakak-kakak TBM Kolong dan mengajukan diri sebagai volunteer. Aku diarahkan untuk datang langsung ke TBM pada hari Minggu, 14 Februari 2021. Tanpa pikir panjang, aku iyakan.

Jarak yang harus aku tempuh dari rumah ke TBM sekitar 40 km, 1,5 jam perjalanan menggunakan motor. Gak jadi penghalang bagiku karena sudah biasa motoran kemana-mana. Yang jelas, aku excited sekali. Ini kegiatan yang membahagiakan untukku.

Dan, benar saja.

Sesampainya di TBM, aku disambut baik Kakak-kakak disana. Dan ternyata gak cuma aku yang datang. Ada juga Kakak-kakak dari UIN Syarif Hidayatullah dan Kakak-kakak Pramuka yang turut hadir. Oya, kegiatan ini sekaligus kegiatan pertama yang dilakukan sejak vakum karena pandemi... (what a luck!). Dan dikarenakan waktu yang mepet dengan jam kegiatan, kami langsung dibriefing kegiatan apa saja yang akan dilakukan nantinya. Kegiatan dibagi di dua tempat (kegiatan tidak dilakukan di TBM), di kelurahan dan di rumah Bu RT. Aku ikut tim yang melakukan kegiatan di rumah Bu RT.

Briefing dipimpin oleh Kak Ria (at the end of the day aku baru tau kalo Kakak ini ketuanya...)


Kakak-kakak Pramuka
Kakak-kakak dari UIN Syarif Hidayatullah

Kami semua berangkat berboncengan menggunakan motor ke dua tempat tersebut. Sesampainya di lokasi, aku gak bisa berhenti tersenyum di balik maskerku. Disambut oleh adik-adik lucu dan menggemaskan, mereka berlari-lari berhamburan di lapangan. Sebelum dimulainya kegiatan, adik-adik tadi diabsen terlebih dahulu dan dicek suhu tubuhnya, juga tak lupa diberikan hand sanitizer.

Tetap mematuhi protokol kesehatan, ya!

Adik-adik dikondisikan untuk duduk teratur, juga merapihkan sepatu dan sandal agar tidak berserakan. Kegiatan dibuka dengan berdoa, dilanjut ice breaking dan mini games.


Mini games: cepet-cepetan cari teman😆

Selanjutnya, kami membagi adik-adik ke dalam tiga kelompok menyesuaikan rentang umurnya. Kelompok 1 diisi adik-adik yang masih PAUD, kelompok 2 diisi adik-adik kelas 1 s.d. 3 SD, dan kelompok terakhir diisi adik-adik yang memasuki usia remaja. Aku kebagian di kelompok adik-adik yang masih PAUD bersama salah seorang Kakak dari UIN Syarif Hidayatullah bernama Kak Diya.

Kegiatan saat itu difokuskan untuk membaca, yang nantinya adik-adik diarahkan untuk tampil percaya diri membacakan apa yang sudah dibaca (read aloud).

Aku yang kebagian adik-adik PAUD, sebenarnya agak kebingungan, ya. Karena mereka, kan, belum bisa baca😆 jadi aku dan Kak Diya hanya membacakan buku-buku dongeng yang tersedia. Tak disangka, minat baca mereka tinggi sekali, lho. Empat buku dongeng kami baca bersama-sama. Kami juga mengobrol banyak hal, membiarkan mereka bercerita tentang teman-teman mereka di sekolah (yang malah merembet ke topik setan-setanan). Melihat tingkah lugu mereka bercerita, jadi moodbooster tersendiri buatku. Gemes bangetttt!!

Kami membaca dongeng bersama-sama

Aku tidak terlalu memperhatikan kelompok lainnya karena terlalu asyik sama adik-adik ini. Tapi sesekali aku melirik, ada Kak Ria yang membacakan dongeng dengan percaya diri di kelompok adik-adik remaja, ada juga Kakak-kakak Pramuka yang melakukan mini games di kelompok sebelah.


Selesai membaca, adik-adik dikumpulkan kembali menjadi satu. Sesuai misi kegiatan hari ini, adik-adik tadi diarahkan untuk membacakan apa yang mereka baca di depan banyak orang (read aloud).


Setelahnya, kami melakukan ice breaking lagi untuk menyegarkan pikiran dan badan.

Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, yang artinya perjumpaan kita harus berakhir...
Maka adik-adik tadi dikondisikan kembali dalam posisi duduk sempurna, dan berdoa. Kegiatan ditutup dengan foto bersama.



Kami pun berpamitan dengan adik-adik dan para ibu disana, untuk segera kembali ke TBM dan melaksanakan salat ashar.

All pictures credits to Kak Aji (@ajiwhyun on Instagram)




Semua berawal dari story whatsapp. 

Salah seorang pegawai kantorku ada yang membuat story seperti ini: Membutuhkan Donor Darah O Segera

Aku yang sebelumnya sudah beberapa kali melakukan donor darah, dan golongan darah yang dibutuhkan sama dengan golongan darahku, merasa ada 'panggilan' untuk membantu pegawai tersebut. Rupanya, dibutuhkan untuk saudaranya yang sedang sakit (aku gak tanya lebih lanjut, sih, sakit apa sampai membutuhkan donor), maka aku membalas story tersebut dan menyatakan aku bersedia menjadi pendonor. Kalau diingat-ingat, aku juga sudah lama tidak donor. Padahal dulu ambisius banget harus rajin donor karena pengen dapat piagam penghargaan keikutsertaan donor😌

Sejam, dua jam, tidak ada balasan. Apa aku dighosting ya sama si Ibu pegawai? :,)

Ah, mungkin sudah dapat. Lagipula, di Indonesia tidak sulit untuk menemukan orang bergolongan darah O. Yasudah, tidak jadi donor deh.

Tapiiiiii...

Jadi kepikiran. Ah, apa stok darah di PMI sedang menipis ya, sampai golongan darah O saja dicarikan pendonor?

Akhirnya aku kepo-kepo deh ke website milik UTD PMI DKI Jakarta, di https://utdpmidkijakarta.or.id/ . Lokasinya juga kebetulan dekat kantor dan searah dengan jalan pulang. Jadi bisa mampir sebentar.

Benar saja, stok darah menipis semenjak pandemi Covid-19 karena sebagian besar stok yang didapat berasal dari event-event sosial (ini aku overheard Mas petugas yang ngobrol sama pendonor di sebelahku, sih). Selama pandemi, mana bisa ngadain event :,) ngadain resepsi nikah dengan jumlah orang lebih dari 30 aja sudah kena ninu ninu.

Nah, aku gak tahu nih, prosedur donor jika aku datang langsung ke PMI nya, karena donor yang aku lakukan sebelumnya itu keikutsertaan aku di event sosial kampus. Jadi, PMI nya yang datang ke kampusku beserta serombongan Mobil Unit Donor Darah.

Bermodal sok tahu dan nekat, aku datang saja lah ke PMI. If you never try, you'll never know, kalau kata Coldplay.

Selesai kerjaan, salat ashar sebentar, langsung bergegas menuju PMI setelah memasuki jam pulang kantor. Sesampainya aku disana, aku menghampiri loket untuk mendaftar. Nantinya akan diberikan formulir untuk mengisi data diri, riwayat seputar Covid-19, serta kuisioner seputar riwayat haid, hubungan seks, tato, narkoba, dan bepergian keluar negeri (ini cuma checklist ya/tidak aja). Selesai mengisi, formulir diberikan ke penyelia untuk didata dan diberikan nomor urut antrian mendonor. Nanti di layar monitor akan ditampilkan nomor urut untuk cek HB dan medical checkup standar sebelum melakukan donor. Sebenarnya prosedurnya sama saja sih, bedanya kali ini aku yang datang ke PMI, bukan didatengin😌

Slip hasil cek HB dan medical checkup. Lolos jadi pendonor huehehe

Setelah selesai melakukan prosedur awal, aku memasuki ruangan donor. Protokol kesehatan juga diperhatikan, kok, disana. Sebelum melakukan donor, aku disuruh berganti ke masker medis yang diberikan gratis oleh petugas, juga dianjurkan untuk mencuci tanganku hingga bagian lengan. Dipanggil namaku untuk berbaring di kursi, dilanjut petugas menyuntikkan jarum untuk mulai diambil darahku. Hanya membutuhkan waktu sekitar 5 s.d. 10 menit untuk mengisi penuh satu kantong 350 cc.

Proses waktu diambil darahnya

Kalau sudah selesai diambil darahnya, nanti diberi kartu donor dan suplemen seperti ini:


Lalu part favoritku pun tiba. Aku diarahkan ke kantin untuk nerima makanan gratis!!!😆 (gak aku foto karna dah habis duluan).

Nah, ternyata, meskipun sebelumnya aku sudah pernah mendonor, aku tetap terhitung satu kali mendonor di UTD PMI DKI Jakarta. Padahal sebelumnya, aku sudah pernah mendonor sebanyak tiga kali namun berbeda UTD.





Sayang banget, kan, kalau donor sebelumnya tidak terhitung (mode ambis biar dapat piagam ini!!)

Kalau kalian mengalami kasus serupa, tenang aja. Boleh kok, data donor sebelumnya dipindah ke UTD terkait. Untuk melakukannya, aku mendatangi layanan customer service dan minta dipindah data. Jadi, meskipun di kartu donor yang baru hanya satu kali stempel, aku terhitung sudah empat kali mendonor😁

Untuk manfaat dari donor darah, bisa googling sendiri lah yaa~

Ayo tunggu apalagi, satu tetes darahmu bisa berarti buat orang lain, lho! Segera donor, ya!


Jadi, hari ini aku akan cerita soal pengalaman pertamaku untuk mendaki gunung.

Iya, mendaki.

Sebagian orang emang nggak yakin orang-orang gendut sejenis aku gini nggak kuat untuk mendaki. Bahkan... temen-temenku sendiri. Then I challenge myself to prove that they're wrong. Fyi, Pendakian ke Gunung Merbabu ini salah satu event dari salah satu ekskul kebanggaan sekolahku, Palaci. Jadi Palaci ini semacam organisasi pecinta alam. Yah, bisa dibilang mapala nya versi Sekolah Menengah Atas. Di pendakian kali ini, kami dibimbing oleh beberapa orang dari MerMonc, yang pastinya, udah khatam ndaki Gunung Merbabu. Hanya dengan lima puluh ribu rupiah sebagai bekal, aku nekat.

Lima puluh ribu rupiah? Kok bisa?

Pertama, manfaatkanlah orang disekitarmu. Untuk perbekalan semacam sleepingbag, matras, jaket gunung, sepatu gunung, mantol, senter, bahkan carrier pun, kamu cukup minjem. Nggak perlu beli. Ini tips irit yang super efektif bin gak modal. Kedua, beli makanan seperlunya. Air 3L, indomie, kopi bungkus, susu, roti tawar, itu udah cukup. Dan yang paling penting itu bawa cokelat, kata anak- anak Palaci sendiri cokelat dipercaya sumber energi paling ampuh.

Dan ini beberapa tips mendaki... yang aku karang sendiri:
  • Kamu harus tahu cara menata barang di carrier dengan benar. Bisa di search di Google. Ini penting, biar punggung nggak cepet capek.
  • Kamu harus tahu larangan-larangan yang ada di tempat kamu mendaki. Bukan soal percaya-nggak percaya, gunung itu lahan yang luas dan rawan akan kehilangan orang.
  • Jangan memakai bahan yang menyerap dingin seperti jeans. Kamu bisa masuk angin.
  • Pakai sarung tangan bila perlu.
  • Jangan berhenti saat mendaki di malam hari, tubuh harus tetap bergerak biar nggak hipotermia.
  • Perlu diingat, jangan mendaki hanya kerna untuk foto-foto. Mendakilah untuk bersyukur atas ciptaan Yang Maha Kuasa.

Nah, dimulailah perjalanan mendaki ini. Aku dan yang lain berkumpul di sekolah terlebih dahulu lalu berangkat menuju jalur pendakian yang dituju sekitar jam 5 sore (fyi, kita ndaki lewat Jalur Selo). Dan sampai di basecamp sekitar jam 8 malam. Dari basecamp ini, kamu udah bisa lihat banyak banget bintang di langit. Untuk musim mendaki, biasanya basecamp manapun bakal full capacity. Jadi alangkah baiknya kita mereservasi sebelum mendaki. Kalo dari pengalamanku kemarin, sih... kami tidur di Musholla. Lantainya dingin minta ampun.
Sekitar jam 4 pagi, kami mulai mendaki. Sebelum mendaki, kami berdoa terlebih dahulu agar selamat diperjalanan maupun selamat sampai tujuan: Rumah.

Pendakian memakan waktu kurang lebih 10 jam. Tapi jangan khawatir, di sepanjang perjalanan kamu bisa rehat sejenak karna biasanya ada pos-pos dan basecamp-basecamp tertentu, yang di Gunung Merbabu sendiri ada Batu Tulis, pos I, II, III, juga ada Sabana I dan Sabana II. Pemandangannya pun tak kalah menarik. The higher you get, the more beautiful you'll see. Dari ketinggian Gunung Merbabu, kamu bisa melihat Gunung Merapi yang elok. Bahkan bisa selfie.

Potret gunung sebelah

Setelah mencapai Sabana II, kami mendirikan tenda untuk bermalam. Tepat jam 1 siang, aku melanjutkan pendakian ku hingga ke puncak. Gunung Merbabu sendiri memiliki 2 puncak, yaitu Puncak Triangulasi (3.145mdpl) dan Puncak Kentheng Songo (3.142mdpl). Dan inilah pemandangan yang aku dapat:

Magnificent, isn't it?

Nggak lupa foto ala-ala 5cm

The saddest part is, bahkan di ketinggian 3.142mdpl pun masih banyak pendaki-pendaki yang nggak bertanggung jawab akan sampahnya. Berserakan tak terkendali. Salam lestari? Hanya intuisi, tanpa bukti. #SaveMerbabu
Lanjut, karna hari semakin sore akhirnya kami memutuskan untuk turun dan bermalam di Sabana II. Dingin? Nggak usah ditanya. Suhu di Sabana II bisa mencapai 14 derajat Celcius karna daerahnya yang berupa lembah. Tapi nggak papa, karna inilah yang bakal kamu dapat di pagi harinya:


Sunrise!

Udah kayak potretan fotografer belum?

Setelah merasa cukup akan semua kenikmatan yang ada, kamu memutuskan untuk turun dan menuju rumah masing-masing. Dan untuk kalian yang masih ragu,
I dare you to dream.


-Behind The Scenes-
Muka-muka kelaparan di Sabana I

Muka-muka bangun tidur setelah merasakan AC 14 derajat Celcius

Pura-pura candid.


Ini yang akan kamu jumpai di Merbabu, Edelweis!


I'd like to say BIG THANKS for Palaci who held this event epic-ally. And also to MerMonc who lead us to the top of the mountain. Banyak hikmah, dan banyak pengalaman yang tak terlupakan. Dan membuatku tak henti untuk selalu bersyukur atas nikmat-Nya yang sungguh tiada duanya.
Sekali lagi, terima kasih.

Credits: self documentary

Aku gak tahu, ini post comeback yang ke berapa kalinya di blog ini. Meskipun gak ada yang baca, rasanya sedih, ya, karna menunjukkan seberapa tidak konsistennya aku dalam melakukan sesuatu.

Mulanya, blog ini kubuat pada tahun 2013, dimana aku masih berumur 14 tahun dan kira-kira masih menduduki bangku kelas 2 SMP. Sebatas mengikuti trend saja. Habis, teman-temanku keren, sih. Melek teknologi. Konten-konten yang disuguhkan juga banyak yang menarik, ada yang menjadikan blognya sebagai wadah karya-karya cerpennya, travelling, maupun daily-life yang dijalani. Aku, yang waktu itu berumur 14 tahun, merasa gak mau kalah sama teman-temanku yang keren. Jadilah blog ini tercipta.

Tapi, untuk apa ya? Konten apa yang aku suguhkan?

Aku tidak pandai menulis cerpen, tidak punya uang untuk travelling, dan tidak ada yang menarik dalam hidupku untuk diceritakan. Lagi, di umur 14 tahun itu, masa dimana sedang puber-pubernya, yah... biasalah. Mulai kenal sama yang namanya 'cinta'. Bertepatan dengan momentum boomingnya Raditya Dika yang banyak menulis buku tentang mantan-mantannya, juga Taylor Swift yang banyak menulis lagu tentang mantannya pula, terbesitlah ide di kepala seorang Hasna Dzakiyya yang berumur 14 tahun itu untuk menuliskan kisah cinta yang dialaminya. Dan benar saja, aku tulis sedemikian rupa tentang cinta pertamaku.

Sayangnya, aku tidak memperhitungkan konsekuensi apa yang harus aku hadapi saat menulis sesuatu secara online.

Banyak yang baca, tentu, apalagi teman-teman satu sekolahku. Tidak apa-apa, aku senang malah jika banyak yang baca. Sampai akhirnya, seorang sahabat─yang sekelas dengan cinta pertamaku─memberitahuku, sebuah hal yang menurutku menjadi traumaku dalam menulis. Tulisanku tentangnya, dibaca bersama oleh seluruh anak kelas. Dipampang nyata di layar besar proyektor: blogku.

Aku tidak memikirkan, bagaimana efek yang harus dialami olehnya. Dijadikan bahan tertawaan di kelas. Ia dan tulisanku. Dan sejak saat itu, berbulan-bulan aku tidak berani untuk menyapanya saat berpapasan. Terlalu malu. :(

Yang baru aku sadari, di umurku yang sekarang menginjak 21 tahun ini, hal tersebut tidak seharusnya menjadi alasanku untuk berhenti menulis, bukan?

Aku rindu sekali mencurahkan isi kepalaku dengan menulis.

Belajar dari kejadian tersebut, kali ini, aku ingin memulainya (lagi) dengan menulis hal-hal yang sekiranya tidak merugikan orang lain. Tentang kisahku, kisah orang-orang di sekitarku, atau kegiatan yang aku lakukan. Yang membahagiakan diriku sendiri saja. Belum terpikirkan konten tepatnya seperti apa. Yang penting, aku menulis, menulis, dan menulis. Menulis disini, sekaligus menjadi sarana self-healingku akan kegiatan yang kurang bermanfaat, seperti, overthinking─penyebabku putus cinta beberapa waktu yang lalu (bohong deng, emang karna gak cocok aja heheh). Karenanya, aku ingin memulai sesuatu yang baru, walaupun menulis disini sebenarnya gak baru-baru amat.

Maka aku menulis untuk menyembuhkanku.
Untuk membunuh waktu.
Untuk menjadi memoar hidupku.
Untuk ditertawakan di kemudian hari.
Dan untuk dikenang.



Bekasi, 16 Februari 2021.
Newer Posts Home

ABOUT ME

me

Picture2
Kumpulan kisah dan potret; bahagia, sedih, amarah, dan gelisah. Atau malah, kumpulan ide-ide brilian. Menjadikan dunia maya sebagai teman bicara.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Pendakian Pertama: Mt. Merbabu! (reblog tahun 2015)
    Jadi, hari ini aku akan cerita soal pengalaman pertamaku untuk mendaki gunung. Iya, mendaki. Sebagian orang emang nggak yakin orang-ora...
  • Aku dan Tuhan
        Semenjak hari itu, di mana sebaris demi sebaris pesan merangsek masuk memenuhi notif layar handphoneku, aku berusaha melawan perasaanku ...

Categories

  • Daily Life 3
  • My Writings 5
  • Social 2
  • TRIP 2

Advertisement

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.

Followers

Search This Blog

Blog Archive

  • ►  2022 (2)
    • ►  August (1)
    • ►  February (1)
  • ▼  2021 (11)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ▼  February (9)
      • Di Bandara
      • Kelas Self-Healing Poli Psikologi Puskesmas Kecama...
      • Pertemuan
      • Syukur
      • Tanya
      • First Time Volunteer @TBM Kolong
      • Donor Darah di UTD PMI DKI Jakarta
      • Pendakian Pertama: Mt. Merbabu! (reblog tahun 2015)
      • Awal yang Baru.

Pages

  • Home

Popular Posts

  • Aku dan Tuhan
  • Di Bandara
  • #Day1 - Sekolah Pra Nikah
  • Tentang Menikah

Labels

  • My Writings 5
  • Daily Life 3
  • Social 2
  • TRIP 2

Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Template