Kulihat ia dari kejauhan, matanya seperti mencari-cari seseorang. Kuteriakkan namanya di antara riuh-rendah pengunjung yang berlalu-lalang, "Kinasih!". Ia refleks tersentak kaget seolah seluruh pengunjung yang datang menoleh padanya. Dengan langkah kakinya yang kecil ia sedikit berlari untuk menghampiriku yang sedari tadi sudah menunggu.
Kami duduk di sebuah bangku panjang, tak jauh dari antrean check-in penumpang pesawat. Dua gelas kopi bertengger di masing-masing tangan kanan dan kiriku, iced americano untukku dan frappucino caramel kesukaannya─aku memang selalu tahu hal-hal kecil yang ia sukai.
"Macet banget, maaf ya." Kinasih membuka percakapan. Tak mengapa kataku, toh aku memintanya menemuiku disini secara mendadak. Tiga tahun tidak bertemu, ia tetap terlihat sama. Kinasih yang mengendarai vespa butut peninggalan kakeknya─tercium dari aroma khas terik matahari yang menyelimuti tubuhnya. Ia selalu menyisir ulang rambutnya dengan jari-jemarinya karena rambutnya kusut, sebagian terbungkus helm dan sebagiannya lagi diterpa angin tak beraturan setelah menempuh jarak yang sama sekali tidak dekat, dari rumahnya ke bandara, hanya untuk menemuiku seorang. Terbesit rasa senang dihatiku mengetahui fakta ini, tapi apakah rasanya terhadapku masih sama setelah tiga tahun lamanya?
Ia meneguk kopi yang aku berikan, bercerita banyak tentang keseharian yang ia lakukan selama kami tak bertegur sapa. Travelling keliling dunia selalu menjadi cita-citanya, yang rupanya mulai terlaksana jua. Setengah dari benua Asia telah ia kunjungi, benua Eropa menjadi target selanjutnya. Momen seperti ini yang selalu aku rindukan darinya, binar matanya saat membicarakan hal yang ia sukai. Binar mata yang sama saat ia memperkenalkanku ke orang tuanya, tiga tahun silam.
Mengajaknya bertemu bukan tanpa tujuan, aku bahkan sudah menyiapkan kata-kata yang hendak aku utarakan; untuk membawanya kembali ke pelukanku, meminangnya, menua bersama.
"Kinasih, ada sesuatu yang ingin aku katakan..."
Ia terdiam, bersiap untuk mendengarkanku dengan seksama.
"Selama tiga tahun ini, aku masih memikirkanmu, Sih. Selalu memikirkanmu..."
PING!!!!
Notifikasi chat yang muncul pada layar smartphone-nya membuyarkan suasana serius yang telah tercipta. Seseorang hendak meneleponnya, katanya. Ia meminta izin padaku untuk menjauh sebentar, meninggalkanku dan kata-kata yang menggantung di ujung lidah.
Ia memunggungiku seraya berbincang dengan kotak seukuran 6 inchi yang menempel di telinga kanannya, tak bisa kuterka ekspresi dan hal apa yang sedang dibicarakan. Hatiku yang mulanya tenang menjadi gelisah.
Selesai dengan teleponnya, ia menghampiriku kembali yang masih duduk di tempat yang sama.
"Boleh aku lanjutkan yang tadi?" tanyaku berhati-hati.
Ia hanya mengangguk.
"Kinasih, selama tiga tahun ini... aku masih memikirkanmu, selalu memikirkanmu. Tidak ada wanita lain setelahmu. Aku menghabiskan tiga tahunku untuk merenungi...."
Nada dering lagu Starlight oleh Muse─grupband favoritnya─dari smartphone-nya berbunyi nyaring mengagetkan kami berdua. Tanda telepon masuk. Ia kembali meminta izin padaku untuk menjauh sebentar, mengangkat telepon. Meninggalkan hatiku yang kian gusar.
Berbeda dari telepon yang pertama, kini ia tak lagi memunggungiku. Ia menelepon sambil mencari-cari, dengan gelagat yang sama saat ia mencariku─sebelum aku meneriakkan namanya. Rupanya, ada seseorang yang ia tunggu kehadirannya. Kedatangannya ke bandara bukan hanya untuk menemuiku seorang.
"Hendra!" teriaknya di antara riuh-rendah pengunjung yang berlalu-lalang. Seorang lelaki bertubuh tinggi besar yang menggendong tas keril hitam di punggung, tersenyum ke arah orang yang meneriakkan namanya tadi─tersenyum ke arah Kinasih. Lelaki yang bernama Hendra itu membentangkan tangannya, disambar pelukan hangat Kinasih yang berlari kecil mengahampirinya. Mereka berbincang sebentar, kemudian Kinasih menunjuk ke arah tempatku duduk. Jarak mereka berdiri dari tempatku duduk hanya beberapa meter, tak butuh waktu lama untuk mendekatiku yang terdiam membisu.
"Ardi, kenalkan. Ini Hendra,"
Hendra.
Namanya terus menggelayut dipikiranku. Nama yang membuat binar mata itu kian jelas, binar mata yang aku kenal─binar mata itu!
Terlambat. Terlambat sudah.
Binar mata yang aku harap takkan lagi menyala untukku.
































