Kelas Self-Healing Poli Psikologi Puskesmas Kecamatan Matraman: Ruang Teduh

Ngerasa gagal terus dalam hubungan, bikin aku mulai mempunyai stigma 'apa ada yang salah ya, sama aku?'

Dan baru-baru ini, aku mengalami post-breakup relationship yang cukup parah; membuatku mencari-cari cara untuk menyembuhkan diri. Sudah curhat ke teman-teman, tetap merasa kurang puas karena pasti mereka memihakku, dan melampiaskannya ke sosial media justru memperparah keadaan. Yang namanya manusia, ya, pengennya dengar apa yang ingin mereka dengar. Jadi, aku memutuskan untuk mendatangi psikolog yang jelas ahlinya, sudut pandang netral, dan stranger; alias sebebas-bebasnya aku cerita, kan, gak bikin imej siapapun jelek nantinya. Oh ya, ini juga jadi pengalaman pertamaku mendatangi psikolog.

Aku gak tahu ya, kenapa stigma di masyarakat tentang mendatangi psikolog cenderung negatif. Padahal menurutku ya biasa-biasa saja. Kayak curhat sama temen yang lebih ahli aja gitu. Semua orang kan pasti pernah berada di titik terendah self-esteem mereka, kayak yang aku alami pasca putus ini. Aku merasa butuh seseorang untuk membangkitkan self-esteemku kembali, yang tidak aku temukan dengan curhat ke teman-teman maupun sambat di sosial media. Mendatangi psikolog juga bukan berarti gak deket sama Tuhan, yaa~

Berbekal koneksi internet dan smartphone yang memadai, tak lupa budget yang minim mampus, aku menelusuri laman google dengan seksama, mencari-cari poli psikologi yang sekiranya nyaman di kantong diriku yang masih CPNS ini (belum digaji Bund hiks). 

Dan ternyata yang aku temukan adalah...

Poli psikologi sudah hadir di hampir seluruh puskesmas kecamatan yang ada di Jakarta!

Dari banyaknya informasi yang aku peroleh, semua puskesmas serempak mengatakan bahwa sesi konseling dialihkan menjadi daring. Aku berburu mengontak puskesmas-puskesmas yang sekiranya dekat dengan kantorku, rumahku, atau kost sahabatku. Beberapa puskesmas yang aku kontak antara lain: Puskesmas Kecamatan Kramat Jati, Puskesmas Kecamatan Senen, dan Puskesmas Kecamatan Matraman. For your information aja nih, kalau kalian punya BPJS boleh langsung daftar, nantinya akan langsung dijadwalkan sesi konseling. Semuanya gratis tis tis tissss. Sementara kalau mandiri (tanpa BPJS), tarifnya berkisar 30 s.d. 45 ribu aja.

Nah di postingan kali ini, aku mau ngebahas pengalaman self-healingku dipandu Poli Psikologi Klinis Puskesmas Kecamatan Matraman aja yaa~ (karena sesi konseling bersama dua puskesmas lainnya bersifat privasi hehehe)


Saat aku mengontak PIC Puskesmas Kecamatan Matraman untuk mendaftar, mereka menyatakan tidak menyediakan layanan konseling tatap muka dan mengirimiku poster di atas. Aku memberanikan diri untuk mengikuti salah satu sesinya.

Sesi konseling diawali dengan lagu-lagu dari Nadin Amizah sebagai pengantar~ Tsaaaaah syahdu bener ya

Aku kira ini bakal jadi sesi one-by-one gitu, tapi ternyataaa pesertanya gak cuma aku. Ada sekitar 8-10 orang termasuk Mas Ari (psikolognya). Jadi semacam klub kecil untuk menyembuhkan diri bersama-sama.

Mas Ari membuka konseling dengan obrolan-obrolan ringan tentang relasi, serta kaitannya dengan teori need, drive, motive. Bagaimana toxic relationship bisa terjadi, kebutuhan batin, juga muhasabah diri. Dari sekian banyak obrolan, satu hal yang bener-bener nancep di otakku sampai sekarang, waktu Mas Ari bilang:
Relasi itu tentang bulding connection, bukan saling memenuhi ekspektasi.

Mak deg mak tratap ya, Bund.

Kata-kata itu yang bener-bener jadi turning pointku, sih. Mungkin ya, selama ini relasi yang aku bangun dengan orang-orang itu didasari atas ekspektasi. Misal nih, aku punya sahabat sebut saja A. Kalau A sakit, aku ngerawat dia sedemikian rupa dengan harapan A bakal melakukan hal yang sama ke aku. Begitu ekspektasiku gak terpenuhi, jadi marah sendiri~

Sama halnya dengan hubungan ya, apalagi pacaran, komitmen, whatever you call it lah. Sebenarnya, sah-sah aja kalau kita punya ekspektasi ke pasangan. Asal, kalau gak sesuai sama ekspektasi kita, yasudah. Jangan malah marah-marah :(

Kelas self-healing dilanjutkan dengan meditasi. Kami para peserta diarahkan untuk memegang jari kelingking, merasakan pulse aliran darah yang mengalir. Sambil memejamkan mata, berimajinasi membayangkan benda sesuai pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Mas Ari. Tapi sayangnya, di part meditasi ini, I'm not at my best state for completely awake dan aku malah kebablasan bobok :( aku kebangun waktu sesi meditasinya selesai dan membahas apa yang tadi diimajinasikan.

Aku be like:


Ada salah satu peserta sharing tentang apa yang dia bayangkan. Ia membayangkan awan saat Mas Ari bertanya, "Apa yang kamu butuhkan?". Peserta itu bilang, mungkin ia membutuhkan kelembutan maka dia membayangkan awan. Ada juga yang membayangkan berlian, yang ia interpretasikan sebagai sesuatu yang berharga. Ia butuh dianggap berharga oleh seseorang, lebih-lebih dianggap berharga oleh orang yang disayang.

Sesi ditutup dengan sepatah-dua patah kata dari Mas Ari, yang bilang kalau belum bisa membayangkan pun gak apa-apa (termasuk untuk aku yang malah kebablasan bobok). Bukan menjadi acuan harus membayangkan ini dan itu. Lalu diakhiri dengan salam sebelum akhirnya menutup ruang zoom.

Kesan mengikuti kelas ini?

Hmm... entahlah. I feel way more... relieved?

Ikut kelas seperti ini juga jadi sarana buat aku mengenal diri sendiri, gak seenak jidat ngejudge dan sukanya nyalahin diri sendiri atas apa yang gak bisa aku kontrol. Ini peer besarku banget, sih. To be emotionally stable. 

Jadi, yah, segitu dulu ya pengalamanku ikut kelas self-healing. Besok-besok kalo ikut lagi insya Allah aku share lagi!!! :D

2 comments

  1. Hi!
    Aku lega kamu sudah baik-baik saja sejauh ini. Tetap berpikir positif ya, terus mengenal dirimu sendiri. Oiya, kamu punya bakat menulis. Tulisanmu punya pemikat khasnya sendiri. Ditunggu tulisan" lanjutanmu.
    Salam.

    ReplyDelete
  2. Kamu keren. Tulisanmu bagus , aku suka.

    ReplyDelete