Pertemuan

Firasat datang disaat akad tinggal menghitung hari.

Ia mengajakku untuk menemui seseorang. Tak jelas siapa dan atas keperluan apa, ia tidak memberitahuku. Kami bertemu di sebuah restoran yang terkenal akan lantai kaca yang di bawahnya terdapat kolam ikan, layaknya lantai kerajaan Nabi Sulaiman saat Ratu Bilqis datang untuk bertamu. Seseorang itu sudah sampai katanya, membuat kami bergegas untuk berangkat agar tidak membiarkannya menunggu terlalu lama. Seperti biasa, ia selalu memakaikan aku helm sebagai sentuhan perhatiannya. Motor astrea tua melaju lebih cepat dari biasanya.

Sesosok wanita berhijab hitam menarik perhatianku sejak awal kami memasuki restoran. Tubuhnya yang mungil membuatnya terlihat tenggelam di dalam pakaiannya yang panjang dan kebesaran. Ia menggenggam sebuah kitab kecil─ Al Qur'an berukuran mini. Mulutnya bergerak berirama, namun tak terdengar suara dari tempat kami berdiri.

Ia menarik tanganku untuk menghampiri wanita behijab itu, yang duduk di meja nomor 24. Rupanya, wanita inilah yang ia maksud─seseorang yang hendak kami temui. Kuperhatikan raut mukanya berubah sumringah saat wanita itu berdiri untuk menyambut kami. Aku tahu kearah mana pertemuan ini akan berujung, tapi hatiku berusaha sekuat tenaga untuk menyangkal segala firasat yang datang.

Wanita itu memperkenalkan dirinya sebagai Aisyah. Tak pelik, apa yang dicita-citakan orang tuanya tercermin dari paras serta kelemah-lembutannya. Aisyah menjaga sentuhan dari lawan jenis agar wudu'nya tetap terpelihara, maka ia hanya menyalamiku saja.

Pembicaraan kami berlangsung lama dengan masa lalu sebagai topik utama. Bagaimana mereka menghabiskan masa SMA bersama, perjalanan hijrah Aisyah, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk tidak saling berbagi kabar. Ini adalah pertemuan pertama mereka setelah sekian lama. Di beberapa kesempatan, Aisyah menceritakan tentang anak kembarnya bernama Hasan dan Husein yang baru menginjak umur satu tahun. Ia memperlihatkan kepada kami foto dan video tingkah lucu anak-anaknya yang tersimpan di smartphone usang miliknya. 

Aku hanya terduduk diam di sebelah lelakiku. Tak mengerti secuil pun bahasan yang menjadi topik obrolan. Melaksanakan tugasku menjadi pendengar dan pengamat.

Tak terasa adzan maghrib pun berkumandang, membuat kami menyudahi pertemuan yang telah berlangsung dua setengah jam lamanya. Aisyah pamit mencari masjid terdekat, untuk segera melaksanakan salat. Aku dan lelakiku masih berdiri di tempat yang sama, melepas kepergian Aisyah hingga bayangnya tak terlihat.

Di tangan lelakiku terdapat sepucuk surat berwarna putih, lengkap dengan hiasan renda hijau tua di pinggirannya. Di tengahnya terpatri inisial "D&A"─Daffa dan Asih, nama kami. Bukan Daffa dan Aisyah seperti apa yang diharapkan lelakiku. 

Digenggamnya surat itu sedari tadi, tak tersampaikan hingga si penerima surat melangkah pergi.

Aku tahu,
Lebih dari sekadar tahu...

Akad esok hari takkan terjadi.

0 comments