Jadi, hari ini aku akan cerita soal pengalaman pertamaku untuk mendaki gunung.
Iya, mendaki.
Sebagian orang emang nggak yakin orang-orang gendut sejenis aku gini nggak kuat untuk mendaki. Bahkan... temen-temenku sendiri. Then I challenge myself to prove that they're wrong. Fyi, Pendakian ke Gunung Merbabu ini salah satu event dari salah satu ekskul kebanggaan sekolahku, Palaci. Jadi Palaci ini semacam organisasi pecinta alam. Yah, bisa dibilang mapala nya versi Sekolah Menengah Atas. Di pendakian kali ini, kami dibimbing oleh beberapa orang dari MerMonc, yang pastinya, udah khatam ndaki Gunung Merbabu. Hanya dengan lima puluh ribu rupiah sebagai bekal, aku nekat.
Lima puluh ribu rupiah? Kok bisa?
Pertama, manfaatkanlah orang disekitarmu. Untuk perbekalan semacam sleepingbag, matras, jaket gunung, sepatu gunung, mantol, senter, bahkan carrier pun, kamu cukup minjem. Nggak perlu beli. Ini tips irit yang super efektif bin gak modal. Kedua, beli makanan seperlunya. Air 3L, indomie, kopi bungkus, susu, roti tawar, itu udah cukup. Dan yang paling penting itu bawa cokelat, kata anak- anak Palaci sendiri cokelat dipercaya sumber energi paling ampuh.
Dan ini beberapa tips mendaki... yang aku karang sendiri:
Iya, mendaki.
Sebagian orang emang nggak yakin orang-orang gendut sejenis aku gini nggak kuat untuk mendaki. Bahkan... temen-temenku sendiri. Then I challenge myself to prove that they're wrong. Fyi, Pendakian ke Gunung Merbabu ini salah satu event dari salah satu ekskul kebanggaan sekolahku, Palaci. Jadi Palaci ini semacam organisasi pecinta alam. Yah, bisa dibilang mapala nya versi Sekolah Menengah Atas. Di pendakian kali ini, kami dibimbing oleh beberapa orang dari MerMonc, yang pastinya, udah khatam ndaki Gunung Merbabu. Hanya dengan lima puluh ribu rupiah sebagai bekal, aku nekat.
Lima puluh ribu rupiah? Kok bisa?
Pertama, manfaatkanlah orang disekitarmu. Untuk perbekalan semacam sleepingbag, matras, jaket gunung, sepatu gunung, mantol, senter, bahkan carrier pun, kamu cukup minjem. Nggak perlu beli. Ini tips irit yang super efektif bin gak modal. Kedua, beli makanan seperlunya. Air 3L, indomie, kopi bungkus, susu, roti tawar, itu udah cukup. Dan yang paling penting itu bawa cokelat, kata anak- anak Palaci sendiri cokelat dipercaya sumber energi paling ampuh.
Dan ini beberapa tips mendaki... yang aku karang sendiri:
- Kamu harus tahu cara menata barang di carrier dengan benar. Bisa di search di Google. Ini penting, biar punggung nggak cepet capek.
- Kamu harus tahu larangan-larangan yang ada di tempat kamu mendaki. Bukan soal percaya-nggak percaya, gunung itu lahan yang luas dan rawan akan kehilangan orang.
- Jangan memakai bahan yang menyerap dingin seperti jeans. Kamu bisa masuk angin.
- Pakai sarung tangan bila perlu.
- Jangan berhenti saat mendaki di malam hari, tubuh harus tetap bergerak biar nggak hipotermia.
- Perlu diingat, jangan mendaki hanya kerna untuk foto-foto. Mendakilah untuk bersyukur atas ciptaan Yang Maha Kuasa.
Nah, dimulailah perjalanan mendaki ini. Aku dan yang lain berkumpul di sekolah terlebih dahulu lalu berangkat menuju jalur pendakian yang dituju sekitar jam 5 sore (fyi, kita ndaki lewat Jalur Selo). Dan sampai di basecamp sekitar jam 8 malam. Dari basecamp ini, kamu udah bisa lihat banyak banget bintang di langit. Untuk musim mendaki, biasanya basecamp manapun bakal full capacity. Jadi alangkah baiknya kita mereservasi sebelum mendaki. Kalo dari pengalamanku kemarin, sih... kami tidur di Musholla. Lantainya dingin minta ampun.
Sekitar jam 4 pagi, kami mulai mendaki. Sebelum mendaki, kami berdoa terlebih dahulu agar selamat diperjalanan maupun selamat sampai tujuan: Rumah.
Pendakian memakan waktu kurang lebih 10 jam. Tapi jangan khawatir, di sepanjang perjalanan kamu bisa rehat sejenak karna biasanya ada pos-pos dan basecamp-basecamp tertentu, yang di Gunung Merbabu sendiri ada Batu Tulis, pos I, II, III, juga ada Sabana I dan Sabana II. Pemandangannya pun tak kalah menarik. The higher you get, the more beautiful you'll see. Dari ketinggian Gunung Merbabu, kamu bisa melihat Gunung Merapi yang elok. Bahkan bisa selfie.
![]() |
| Potret gunung sebelah |
Setelah mencapai Sabana II, kami mendirikan tenda untuk bermalam. Tepat jam 1 siang, aku melanjutkan pendakian ku hingga ke puncak. Gunung Merbabu sendiri memiliki 2 puncak, yaitu Puncak Triangulasi (3.145mdpl) dan Puncak Kentheng Songo (3.142mdpl). Dan inilah pemandangan yang aku dapat:
![]() |
| Magnificent, isn't it? |
![]() |
| Nggak lupa foto ala-ala 5cm |
The saddest part is, bahkan di ketinggian 3.142mdpl pun masih banyak pendaki-pendaki yang nggak bertanggung jawab akan sampahnya. Berserakan tak terkendali. Salam lestari? Hanya intuisi, tanpa bukti. #SaveMerbabu
Lanjut, karna hari semakin sore akhirnya kami memutuskan untuk turun dan bermalam di Sabana II. Dingin? Nggak usah ditanya. Suhu di Sabana II bisa mencapai 14 derajat Celcius karna daerahnya yang berupa lembah. Tapi nggak papa, karna inilah yang bakal kamu dapat di pagi harinya:
![]() |
| Sunrise! |
![]() |
| Udah kayak potretan fotografer belum? |
Setelah merasa cukup akan semua kenikmatan yang ada, kamu memutuskan untuk turun dan menuju rumah masing-masing. Dan untuk kalian yang masih ragu,
I dare you to dream.
-Behind The Scenes-
![]() |
Muka-muka kelaparan di Sabana I |
![]() |
Muka-muka bangun tidur setelah merasakan AC 14 derajat Celcius |
![]() |
| Pura-pura candid. |
![]() |
| Ini yang akan kamu jumpai di Merbabu, Edelweis! |
I'd like to say BIG THANKS for Palaci who held this event epic-ally. And also to MerMonc who lead us to the top of the mountain. Banyak hikmah, dan banyak pengalaman yang tak terlupakan. Dan membuatku tak henti untuk selalu bersyukur atas nikmat-Nya yang sungguh tiada duanya.
Sekali lagi, terima kasih.
Credits: self documentary













3 comments
Keren!
ReplyDeleteorang gendut naik gunung, cakep.
ReplyDeletebtw foto-fotonya bagus! next time ajak-ajak!
Delete