Aku mulai mempercayainya setelah bertemu denganmu.
Kita putar ke belakang, yuk.
Tuhan menciptakan aku dan kamu di zaman yang sama. Padahal bagi-Nya bisa-bisa saja aku dilahirkan di zaman Fir'aun berkuasa. Atau bisa saja Ia menciptakanmu untuk menaiki bahtera, menjadi pengikut Nabi Nuh. Atau bisa saja menciptakan kita di zaman yang sama namun berbeda belahan dunia, aku memihak Sekutu sementara kamu memihak Poros.
Tapi nyatanya, tidak Ia lakukan.
Atas pilihan-pilihan hidup yang kita buat dan campur tangan Tuhan di dalamnya; kalau saja Tuhan mengarahkan hatimu untuk mantap melanjutkan studi di tempat lain. Atau, kalau saja Ia mengarahkan hatiku untuk memilih tidak kuliah saja, lebih baik langsung bekerja. Maka, tidak ada perkenalan di antara kita.
Tapi nyatanya, tidak Ia lakukan.
Atas pilihan-pilihan hati yang melibatkan cinta dan Tuhan di dalamnya; kalau saja Tuhan membolak hatiku untuk mencintai diriku sendiri sedemikian rupa, hingga akhirnya memilih untuk tidak mencintai siapapun sampai akhir hayat nanti. Atau, kalau saja Tuhan membalik hatimu untuk hanya mencintai satu wanita dalam hidup, kamu tidak akan mencintai temanku. Maka, tidak ada pertemuan di antara kita.
Tapi nyatanya, tidak Ia lakukan.
Tuhan pada akhirnya menciptakan, mencampuri, dan memantapkan hati atas pilihan-pilihan hidup yang kita buat, di waktu dan alur yang tepat: agar terjadi sebuah pertemuan.
Aku dan kamu.
Dan untuk itu, aku bersyukur.
Jakarta, 25 Desember 2020




1 comments
AKU SUKA BAGIAN INI! JUJUR KAMU PASTI NANGIS WAKTU BUAT!
ReplyDelete