Tanya

 "Melbourne karya Winna Efendi adalah novel keempat yang selesai kubaca untuk bulan ini," ujarnya bangga seraya tersenyum manis. Matanya terus menatap ke arahku seolah bertanya apakah aku penasaran dengan isi novelnya. Yang, tentu saja tidak. Ia tahu benar.

Tapi kata yang keluar dari mulutku justru, "Novelnya tentang apa?"

Karna aku tahu benar: ia hanya perlu didengar.

Ia pun membenarkan posisi duduknya, menyedot gula di dasar gelas es teh manis yang belum diaduk. Bakaran sate-satean belum juga diantarkan oleh Mbah Kis, si empunya angkringan yang berada di depan Alfamidi, tak jauh dari kampus dan kawasan kost kami. Suasana angkringan yang remang-remang membuat wajahnya yang cerah berseri seolah terkena lampu sorot yang entah datang darimana. Ia siap menceritakan apa yang dia baca.

"Kisah tentang dua manusia yang saling jatuh cinta untuk yang kedua kalinya. Bagus. Aku suka tokoh yang bernama Laura disini. Mirip banget sama aku,"

Hening panjang.

Matanya mulai menyelidik, berusaha memaksaku untuk menanggapinya dengan kalimat tanya.

"Mirip dari segi mananya?" tanyaku singkat.

"Pemikiran-pemikiran takutnya akan masa depan, akan perasaan terluka. Ohya! Dia juga punya perspektif begini: ada lagu yang tepat untuk setiap kejadian. Aku juga memiliki perspektif seperti itu... bedanya, bagiku, ada lagu yang tepat untuk mengingatkanku pada seseorang."

Mbah Kis mengantarkan sate-satean pesanan kami yang memaksa ia untuk jeda sejenak dari celotehannya.

"Matur nuwun, Mbah."

"Ojo seru-seru yo, Nok, critone. Ra penak nek tetonggo do krungu."

"Ohya. Ngapunten nggih, Mbah."

Ia menyedot lagi gula yang berada di dasar gelas es tehnya. Bersiap untuk kembali bercerita. Alih-alih membenarkan posisi duduk, kali ini yang ia lakukan adalah meraba-raba tenggorokannya sebelum mulai berbicara.

"Jadi..." suaranya berubah menjadi pelan sekali, hampir tidak terdengar.

"Gedein dikit. Gak kedengeran,"

"Oh oke. Jadi..." volumenya naik tingkat, menjadi setengah berbisik.

"Seperti yang aku bilang tadi, bagiku ada lagu yang tepat untuk mengingatkanku pada seseorang. Lagu Man Upon The Hill misalnya, mengingatkanku pada Pras yang mendadak berhenti mengabariku, tahu-tahu datang ke konser kampus dengan wanita lain. It was just a fling between us, tapi melihatnya bersama wanita lain membuat dadaku sesak. Lirik lagu itu bilang, 'I stopped right there, you found a new home. And I should be happy', yang membuatku sadar untuk berhenti memikirkannya, dan seharusnya aku berbahagia untuknya.

"Atau lagu Rahasia Hati-nya Nidji. Mengingatkanku pada Afkar, cintaku yang tak berbalas. Cinta yang tak pernah aku ungkapkan, atau lebih tepatnya, aku tak punya nyali untuk mengungkapkannya. Lirik lagunya berbunyi,

Andai matamu melihat aku
Terungkap semua isi hatiku
Alam sadarku alam mimpiku
Semua milikmu andai kau tahu
Andai kau tahu
Rahasia Cintaku."

Ia menyanyikannya pelan dengan nada sumbang. Dua tahun mengenalnya adalah waktu yang cukup bagi telingaku untuk terbiasa.

"Kamu penasaran gak, lagu apa yang mengingatkanku sama kamu?"

Aku yang sedang asik mengunyah sate telur puyuh seketika tersedak dengan pertanyaannya yang diluar dugaan. Aku menyeruput kopi hitamku untuk menenangkan kerongkonganku.

Hening panjang kembali berada di antara kami.

Ia melanjutkan, "The Scientist, Coldplay."

"Kenapa begitu?"

"Nobody said it was easy
It's such a shame for us to part
Nobody said it was easy
No one ever said it would be this hard
Oh, take me back to the start."

Ia menyenandungkan lagu tersebut, dengan suara serak tertahan. Menahan air mata yang sejak tadi berkumpul di sudut matanya, ingin jatuh.

"Aku merasa... aku selalu menganalisis apa-apa saja yang terjadi di antara kita, mencari-cari akar permasalahan layaknya ilmuwan. Padahal, masalah-masalah tersebut hanya skenario dari hasil imajinasi dan ketakutanku akan terluka, tidak pernah benar-benar ada... Sampai akhirnya kita harus berpisah. Kenangan indah seolah terlupakan dengan begitu banyak argumen dan perdebatan yang itu-itu saja. It's like we're running in circles."

Ia berhenti sejenak, mengatur napas. Aku tahu, butuh keberanian yang tidak sedikit baginya untuk mengatakan ini semua.

"Aku ingin mencintaimu dengan penuh keberanian kali ini. So here, I proposed to you. Let's go back to the start, shall we?"

Di tengah remang lampu yang menyinari angkringan pinggir jalan, aku tersenyum menatap matanya yang penuh harap menunggu jawaban.

"Selamat datang untuk kembali pulang."

2 comments

  1. Mantap, keren has. Semoga bisa rutin nulis lagi yaa..

    ReplyDelete
  2. eee maap maap nih, selera saya musik pantura semua, keinget apaan coba?

    ReplyDelete